Pelepasliaran Tukik Tandai Syukuran Ruwat Laut Pantai Minang Ruah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Pariwisata Pantai Minang Ruah di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan yang memikat menjadi salah satu mata pencarian masyarakat setempat. Sebagai rasa syukur, masyarakat pesisir melakukan ruwat laut dengan melepaskan tukik sekaligus pengembangan objek wisata.

Saiman Alex, ketua Pokdarwis Minang Ruah Bahari saat acara ruwat laut dan syukuran, Senin (21/9/2020). Foto: Henk Widi

Rian Haikal, ketua panitia pelaksana kegiatan ruwat laut menyebutkan, pelestarian penyu menjadi salah satu daya tarik di objek wisata bahari tersebut. Pengembangan objek wisata Minang Ruah menurutnya tidak lepas dari peran serta berbagai pihak. Berkembangnya objek wisata yang dikelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) telah menjadi magnet bagi meningkatnya kunjungan wisatawan.

Selain menyajikan keindahan alam, wisata berbasis konservasi menjadi keunikan pantai. Sejumlah spot menarik berupa goa lalai, green canyon, batu alif, penetasan penyu menjadi daya tarik untuk datang.

“Integrasi kawasan pariwisata dengan mempertahankan kearifan lokal masyarakat, menjaga kelestarian menjadi cara menjaga keseimbangan antara sektor pariwisata berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat,” terang Rian Haikal di pantai Minang Ruah, Senin (21/9/2020).

Pengelolaan pantai Minang Rua terus mengalami peningkatan. Meski telah mengalami bencana tsunami pada 22 Desember 2018, gelombang pasang bisa dilalui oleh masyarakat dengan baik. Berkah melimpah melalui keindahan alam, hasil tangkapan ikan laut memberi kesejahteraan bagi warga pesisir.

Bahtiar Ibrahim, Kepala Desa Kelawi menyebut pantai Minang Ruah merupakan aset bersama. Pantai tersebut sudah cukup dikenal di tingkat daerah hingga nasional.

“Syukuran ruwat laut yang dilakukan sederhana tidak mengurangi makna ungkapan syukur salah satunya dengan rilis tukik ke alam bebas,” cetusnya.

Joner Butar Butar, kepala seksi kelembagaan Dinas Kelautan dan Perikanan menyebut konservasi penyu jadi bentuk rasa syukur masyarakat pesisir. Langkah Pokdarwis Minang Ruah Bahari mengelola potensi laut, penyu menjadi harapan untuk destinasi bahari. Cara mengungkapkan rasa syukur dilakukan dengan menjaga berkah dalam bentuk penangkaran penyu.

Pengembangan objek wisata pantai yang dikombinasikan dengan konservasi cukup mendukung. Potensi yang ada dari sektor pariwisata dan nilai ekonomis harus berjalan seiring. Keberadaan pantai sebagai objek wisata akan menjadi sumber pendapatan asli desa. Kegiatan konservasi lingkungan dilakukan secara berkelanjutan.

“Menjaga biota laut untuk kelestarian tetap bisa dikembangkan berdampingan dengan sektor pariwisata,” cetusnya.

Saiman Alex, ketua Pokdarwis Minang Ruah Bahari menyebut syukuran ruwat laut digelar sederhana. Rilis anak penyu atau tukik sekitar 90 ekor merupakan cara untuk mengungkapkan syukur atas berkah bagi masyarakat sekitar pantai. Puluhan tukik yang menetas merupakan hasil pencarian di pasir sejak bulan Juni silam. Selama 62 hari sebagian telur telah menetas dan dirilis bertahap.

“Pengelola objek wisata tidak hanya fokus pada keindahan agar dikunjungi wisatawan namun juga konservasi penyu,” bebernya.

Hantaman tsunami pada 2018 silam menurutnya jadi pukulan karena merusak fasilitas objek wisata. Selain itu penyu enggan bertelur karena habitat rusak. Memasuki tahun 2019 hingga 2020 pembenahan dilakukan untuk mengembalikan destinasi wisata yang menarik. Sebagai bentuk ungkapan syukur ruwat laut digelar dengan merilis tukik dan juga doa bersama oleh masyarakat untuk keselamatan.

LampungLamselPantai Minang RuahTukik
Comments (0)
Add Comment