Tangkap Ikan, Nelayan di Sikka Abaikan Alat Ramah Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Para nelayan di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama yang menetap di beberapa pulau di Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Maumere masih menggunakan kompresor dalam menangkap ikan yang terhitung tidak ramah lingkungan.

Penggunaan kompresor dilakukan sebagai alat bantu selam untuk pernapasan yang biasa dipergunakan nelayan dalam menangkap gurita, maupun menangkap ikan di dasar laut dengan kedalaman sekitar 10 meter atau lebih.

“Masih banyak nelayan yang menggunakan kompresor untuk menangkap ikan. Minggu lalu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT melakukan penyitaan kompresor,” sebut Nurdin, seorang nelayan Kabupaten Sikka, NTT,  Rabu (23/9/2020).

Nurdin menyebutkan, nelayan biasanya menggunakan kompresor untuk mencari gurita di dasar laut di antara karang-karang dengan meggunakan senapan rakitan untuk menembak gurita.

Selain itu juga, nelayan juga biasa menggunakan kompresor untuk menangkap ikan demersal di dasar laut dan ikan karang berukuran besar karena dengan menggunakan kompresor bisa menyelam lebih lama.

“Ada juga nelayan yang mengalami kecelakaan karena selang angin dari kompresor bocor atau terlepas. Risikonya gendang telinga bisa rusak karena menyelam terlalu dalam,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, mengakui memang masih ada nelayan di Kabupaten Sikka yang menggunakan kompresor saat memanah ikan di dasar laut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, NTT, Paulus Hilarius Bangkur saat ditemui di Maumere, Rabu (23/9/2020). Foto: Ebed de Rosary

Paulus menyebutkan, pihaknya sudah menyampaikan kepada para nelayan bahwa hal itu dilarang sesuai Undang – Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan sehingga nelayan dianjurkan tidak boleh mempergunakannya.

“Undang-undang jelas melarang penggunaan kompresor sebab alat bantu yang diperbolehkan hanya rumpon dan pelampung. Jadi kompresor dilarang untuk aktivitas penangkapan ikan,” ungkapnya.

Saat masyarakat kepulauan mengadu ke Bupati Sikka, kata Paulus, dirinya sudah menjelaskan hal tersebut dilarang dalam undang-undang sehingga pemerintah kabupaten pun pasti tidak mungkin membuat kebijakan memperbolehkannya karena melanggar aturan.

Dirinya pun mengaku akan berkordinasi dan menggelar pertemuan bersama PSDKP Kupang, Polair Polda NTT dan BBKSDA NTT terkait hal ini sesuai dengan aturan undang-undang.

“Saya sudah sampaikan tidak mungkin kita memperbolehkan hal ini. Kita harapkan nelayan mematuhinya dan melakukan penangkapan ikan dengan cara-cara yang ramah lingkungan,” pesannya.

kompresorlautNTTramah
Comments (0)
Add Comment