Penjualan Jamu Tradisional di Semarang, Meningkat

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Meningkatnya minat masyarakat untuk menjaga imun tubuh dengan rajin minum jamu, berimbas pada peningkatan penjualan jamu sekaligus pendapatan bagi para penjual jamu tradisional di Semarang. Hal tersebut diakui Suwarti, salah satu penjual jamu tradisional keliling, saat dijumpai di sela berjualan di kawasan Mangunharjo, Kota Semarang, Selasa (20/10/2020).

“Saya sudah berjualan jamu sejak masih muda, lupa tahun berapanya, tapi sekarang usia saya sudah 54 tahun. Minat pembeli ya turun naik, kadang sepi kadang ramai, tapi memang sejak ada Corona, justru pembelinya banyak,” paparnya.

Warti mengaku dalam sehari bisa menjual hingga lebih dari 100 gelas, meski rata-rata di angka 50-70 gelas. Terkadang ada juga pembeli yang membeli langsung satu botol jamu ukuran 1,5 liter.

“Per gelas saya jual Rp3 ribu, sama semuanya. Mau beras kencur, kunir asem, temulawak, pahitan, gula asem, harganya sama. Kalau mau lebih segar, bisa juga ditambah es batu. Kalau satu botol jamu, saya jual Rp30 ribu. Kalau ada yang mau pesanan jamu, juga bisa. Nanti saya buatkan di wadah tersendiri,” terangnya.

Sulistyo, salah satu pembeli jamu saat ditemui di kawasan Mangunharjo Kota Semarang, Selasa (20/10/2020). -Foto: Arixc Ardana

Uniknya, tidak hanya jamu, aneka panganan lain juga ikut dijajakan, seperti gorengan, tahu bacem, donat, hingga nasi bungkus.

“Biar makin lengkap, bisa buat teman minum jamu. Kalau ada pembeli yang lapar, bisa makan nasi bungkus, nanti setelah selesai, minumnya jamu,” jelasnya, mendetail.

Lebih jauh dipaparkan, untuk menjaga kepercayaan pembeli, semua jamu tersebut dibuatnya sendiri.

“Semuanya saya sendiri yang membuat, jadi bisa dijamin, tidak pakai bahan kimia. Pakai bahan jamu segar, mulai dari kunir (kunyit-red), asam jawa, sampai brotowali untuk jamu pahitan,” paparnya.

Seluruh bahan pembuatan jamu tersebut, didapatnya dari sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang.

“Bahan-bahannya beli di pasar, tidak ada yang menanam sendiri, sebab kelamaan nanti menunggunya. Jadi, langsung beli saja, jadi bahan selalu ada,” lanjutnya.

Ditambahkan, dengan tingginya minat masyarakat untuk minum jamu, juga berimbas pada pendapatannya. Setelah dikurangi biaya bahan baku hingga ongkos lelah, dalam sehari setidaknya dirinya bisa mengantongi keuntungan Rp100 ribu – Rp150 ribu.

“Ya cukuplah, untuk biaya sehari hari, untuk tambah-tambah pendapatan keluarga. Kebetulan juga anak-anak sudah menikah semua, jadi bebannya tidak terlalu berat,” imbuh ibu tiga anak ini.

Permintaan jamu tradisional yang meningkat selama pandemi Covid-19, juga diutarakan Sulistyo, salah satu pembeli jamu. Dipaparkan, hampir setiap hari dirinya mengkonsumsi jamu.

“Hampir setiap hari, saya mengkonsumsi jamu, khususnya jamu tradisional. Mulai dari beras kencur, kunir asem, gula asem sampai pahitan. Selain memang gemar minum jamu, ini juga menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesehatan atau imunitas tubuh, khususnya selama pademi Covid-19,” ungkapnya.

Selain membeli untuk diminum langsung, Sulis mengaku juga kerap membungkus jamu untuk diminum pada kesempatan berbeda. “Misalnya pagi hari, beli untuk diminum langsung, tapi juga dibungkus juga, nanti diminum sore hari,” terangnya.

Diungkapkan, menjaga imunitas menjadi salah satu cara agar tubuh selalu sehat dan fit. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan beragam cara, termasuk dengan rutin mengkonsumsi jamu tradisional yang sudah dipercaya khasiatnya sejak zaman nenek moyang.

“Jadi, kalau dulu beli hanya seminggu sekali, sekarang hampir tiap hari. Memang ada pengeluaran lagi, uang untuk beli jamu, namun saya kira tidak menjadi masalah demi untuk menjaga kesehatan tubuh. Mencegah lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya.

CovidimunitasjamuJatengpandemisemarangTradisional
Comments (0)
Add Comment