Warga Lestarikan Kawasan Muara Sumur Induk di Lampung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Berdampingan dengan sungai, tak lepas dari kearifan warga Lampung untuk menjaga sumber kehidupan. Air bersih dan berbagai keperluan diperoleh dari aliran sungai.

Rusli, pelestari kawasan muara sungai Sumur Induk, mengatakan, puluhan tahun silam sungai Sumur Induk memiliki lebar lebih dari belasan meter. Suksesi alam oleh sedimentasi, alih fungsi lahan menjadi sawah, dan tambak berimbas penyempitan.

Selain itu, aktivitas penambangan bukit batu di bagian hulu berimbas material pasir dan batu mempercepat sedimentasi hingga hilir sungai.

Menurut Rusli, warga tinggal menetap di tepi sungai. Sebagai akses untuk menuju ke laut Jawa dan Selat Sunda, sungai Sumur Induk menjadi sarana transportasi. Bencana banjir pada awal 2020 melanda permukiman. Dampak sedimentasi, penebangan pohon dan pertambangan menjadi biangnya. Ia dan warga melakukan upaya menjaga alam dengan pelestarian bantaran sungai.

“Warga di bagian tepi sungai tetap melestarikan sejumlah pohon penahan longsor, namun alih fungsi lahan pada perbukitan menjadi area tambang dampaknya sungai dangkal, area tambat perahu pada alur sungai makin menyempit,” terang Rusli, saat ditemui Cendana News, Rabu (21/10/2020).

Aliran sungai Sumur Induk dimanfaatkan warga untuk menanam bambu kuning, pohon kelapa dan berbagai jenis tanaman kayu keras, Rabu (21/102020). -Foto: Henk Widi

Hidup berdampingan dengan alam, sebut Rusli, menjadi kearifan lokal baginya dan warga nelayan. Muara sungai yang mengalami abrasi oleh terjangan gelombang laut membawa sedimen pasir.

Penyempitan oleh pembangunan tambak di wilayah tersebut ikut berdampak pada pendangkalan yang masif. Upaya pengerukan dilakukan swadaya oleh masyarakat.

Menjaga kawasan sungai mengalami kerusakan, Rusli yang tinggal di Dusun Sumur Induk melakukan pelestarian tanaman pidada. Ia mengingat awal penanaman pidada dilakukan usai bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Ia mendapatkan ribuan bibit tanaman bernama ilmiah Sonneratia caseolaris itu dari Pesawaran.

“Saya tanam ribuan bibit yang tumbuh hanya ratusan, sebagian mati, kini tanaman telah berkembangbiak secara alami,” bebernya.

Tanaman yang oleh masyarakat dikenal dengan perpat merah itu efektif menahan laju abrasi pantai timur. Proses penyaringan air oleh akar napas, menjadikan sungai menjadi bersih. Nelayan yang melaut akan memanfaatkan muara sungai sebagai lokasi tambat perahu. Sebab, sebagian rumah warga langsung berhadapan dengan sungai.

Ribuan tanaman pidada, sebutnya, menjadikan pantai yang kini dilestarikan dikenal dengan pantai Pedada. Selain tanaman pidada, Rusli juga menambahi vegetasi pantai dengan tanaman ketapang atau Terminalia cattappa. Jenis tanaman lain berupa kemiri laut atau Aleurites molluccana, kelapa dan berbagai vegetasi pantai.

“Hidup berdampingan dengan laut dan sungai, kini harus akrab dengan sampah kiriman, jadi siap untuk membersihkan setiap saat,” cetusnya.

Sampah di muara sungai kerap berasal dari permukiman warga. Sebagian sampah berasal dari arus laut, ketika gelombang pasang membawa berbagai jenis sampah. Kesadaran warga di sekitar sungai yang meningkat, dengan menghentikan pembuangan sampah di sungai. Sebagian tepian sungai yang sempat menjadi lokasi pembuangan sampah mulai dipakai untuk menanam berbagai jenis pohon.

Himi, salah satu nelayan, menyebut keberadaan pohon di tepi sungai dan pantai menjadi area tambat. Keberadaan pohon sekaligus menjaga potensi longsor saat musim penghujan. Salah satu kendala yang dihadapi warga saat musim kemarau, aktivitas pembuangan sampah dilakukan di aliran sungai.

“Sebentar lagi musim penghujan berpotensi menimbulkan banjir, tanaman bisa menjadi peresap air, sehingga harus dipertahankan,” cetusnya.

Himi mengatakan, kontur sungai yang berubah sudah saatnya dilakukan pengerukan. Ia dan warga lain telah mengusulkan ke pemerintah desa dan perusahaan pemilik tambak. Pengerukan akan dilakukan pada muara sungai, agar mempermudah nelayan. Sebab, selama kemarau, sedimentasi berimbas muara sungai tertutup. Sebagai lokasi alternatif, ia menambatkan perahu di pohon ketapang.

IndukLampungLamselsumurSungai
Comments (0)
Add Comment