Antisipasi Banjir, Petani Melon Sewa Lahan Dataran Tinggi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

CILACAP – Guna mengantisipasi kerugian akibat tanaman terendam banjir, petani melon dan semangka mitra Yayasan Damandiri, Syariman, memilih untuk menyewa lahan di dataran yang cukup tinggi. Lahan seluas 3 hektare tersebut, ia sewa seharga Rp 6,6 juta.

“Saya sudah menyewa lahan di daerah Pamongkoran, masuknya sudah wilayah Jawa Barat. Saya pilih lahan yang berada di dataran tinggi, supaya terhindar dari banjir,” kata Syariman kepada Cendana News, Rabu (25/11/2020).

Syariman tampaknya tak mau berlama-lama berpangku tangan pasca lahan semangka dan melonnya rusak akibat terendam banjir. Meskipun mengalami kerugian hingga puluhan juta, ia memilih untuk segara bangkit dan bercocok tanam kembali.

Lahan pertanian dataran tinggi di daerah Pamongkoran dipilih Syariman untuk memulai usaha tanam melon dan semangka, Rabu (25/11/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

Untuk membayar sewa lahan tersebut, Syariman mengaku menggandeng temannya sesama petani dari Yogyakarta serta petani salah satu tetangganya. Kemudian lahan rencananya akan dikerjakan bersama-sama.

“Saya tetap akan menanam semangka dan melon, karena keahlian saya ya tanam dua jenis buah tersebut,” tuturnya.

Saat ini lahan tersebut sudah mulai dikerjakan, tanah digemburkan dan sudah siap untuk ditanami. Hanya saja, Syariman mengaku kehabisan modal untuk membeli bibit tanaman. Sehingga ia harus memutar otak untuk mendapatkan suntikan modal kembali.

Petani melon lainnya, Saripin mengatakan, banjir yang kemarin melanda wilayah Cilacap dan sekitarnya memang banyak menimbulkan kerugian bagi para petani. Tak hanya merusak tanaman padi, tetapi juga merusak kebun buah milik petani.

“Saya berharap ada bantuan benih melon golden lagi dari Yayasan Damandiri, karena saat seperti sekarang ini, kita benar-benar kehabisan modal,” kata petani asal Desa Madura, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap ini.

Syariman sendiri juga mengalami kerugian cukup banyak akibat banjir. Buah semangka siap panen di kebunnya terendam selama 10 hari dan 30 ton semangka siap panen miliknya membusuk. Begitu pula dengan 4.000 tanaman melon golden yang semuanya rusak terendam banjir.

“Kalau tanaman melon sebenarnya akan panen bulan depan dan hasil panen akan dijual ke Taman Buah Mekarsari, tetapi belum sampai panen, tanaman sudah rusak,” keluhnya.

Syariman mengaku mengalami kerugian hingga Rp 45 juta lebih. Mulai tanam, pemeliharaan, pemupukan hingga panen, untuk lahan seluas 10 hektare diperlukan modal sekitar Rp 60 juta.

Untuk tanaman melon memang belum masuk masa panen dan masih harus dilakukan pemupukan lagi. Sehingga modal yang sudah dikeluarkannya baru sekitar Rp 45 juta.

Petani dari Desa Rejasari, Kecamatan Langensari ini tak mau mengulangi kesalahan dua kali, ia pun memilih lahan dataran tinggi untuk memulai usahanya kembali.

BuahDamandiriJatenglahanMelonModalPadipanenpetanitanamanYayasan
Comments (0)
Add Comment