Petani Pisang di Lamsel Tetap Optimis Meski Harga Anjlok

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah petani pisang di Lampung Selatan tetap optimis melakukan penanaman meski harga anjlok. Samsul Maarif, petani di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebut menanam sekitar 7000 batang berbagai varietas dengan metode tumpang sari.

Pada lahan seluas 7 hektare ia menanam pisang varietas kepok, tanduk, muli, raja nangka, ambon, raja sere, raja bulu. Sementara untuk harga selama masa pandemi mengalami penurunan. Sempat dijual dengan harga lebih dari Rp5.000 per kilogram turun hingga hanya Rp1.200.

Penurunan harga sebut Samsul Maarif dipengaruhi permintaan yang berkurang. Meski demikian proses perawatan tanaman pisang yang mudah membuat ia optimis masih bisa mendapat keuntungan.

“Puluhan tahun petani mengandalkan komoditas tersebut sebagai sumber penghasilan, saat harga sedang anjlok saya masih bisa mengirim berbagai varietas untuk kebutuhan rebusan, digoreng dan dibuat berbagai jenis kuliner sebanyak empat ton,” terang Samsul Maarif saat ditemui Cendana News, Senin (30/11/2020).

Samsul Maarif bilang sebelumnya hasil panen dijual dengan sistem tandan. Namun sejak awal 2019, mulai dijual dengan sistem timbang. Pisang muli seharga Rp1200, raja nangka Rp800, ambon biasa Rp1.000, raja bulu Rp2.000, ambon lumut Rp2.200, tanduk Rp3.500, kepok Rp2.500.

Samsul Maarif menyebut permintaan terbanyak berasal dari wilayah Tangerang dan Jakarta. Meski harga anjlok hingga Rp1.000 perkilogram permintaan rutin justru menguntungkan.

“Permintaan yang penting stabil sehingga petani tetap bisa menjual komoditas yang dihasilkan dari kebun,” terang Samsul Maarif.

Surahman, salah satu pengepul di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan menyebutkan, kualitas pisang yang mulai membaik saat musim penghujan membuat ia bisa membeli ratusan tandan dalam sehari.

Samsul Maarif, petani dan pelaku usaha jual beli pisang di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan rata rata mengirim komoditas pisang 4 ton perpekan, Senin (30/11/2020). Foto: Henk Widi

Permintaan berasal dari pengepul untuk memenuhi kuota pengiriman rata rata 3 hingga 4 ton perpekan. Jenis yang kerap dibeli dominan berupa kepok, janten dan raja nangka.

Surahman bilang harga pisang yang anjlok membuat petani lebih memilih menjualnya dengan sistem timbang. Satu tandan sebutnya rata rata dibeli dengan harga Rp15.000 hingga Rp25.000.

Harsono, petani di Desa Hatta Kecamatan Bakauheni menyebut ia melalukan peremajaan pada tanaman yang telah dipanen. Sebab tanaman bisa dipanen setelah usia satu tahun. Setelah mulai berbuah jenis pisang muli bisa dipanen setiap dua pekan sekali.

Ia optimis tetap menanam pisang yang kerap dibutuhkan dalam sejumlah acara. Acara keluarga dalam tradisi Jawa kerap sebagai sajian pada sejumlah kuliner. Meski harga murah komoditas pisang jadi salah satu investasi jangka pendek yang bisa memberinya sumber penghasilan.

Nurhasanah, pedagang pisang matang menyebut ia menjual dengan sistem sisir. Jenis kepok, ambon, janten dijual mulai harga Rp8.000 hingga Rp15.000 persisir. Konsumen dominan para pedagang gorengan dan pembuatan kue.

Melimpahnya hasil panen pisang membuat sebagian petani menjual kepadanya dalam kondisi matang. Sebagian dijual saat mentah kepada sejumlah pengepul.

LampungLamsel
Comments (0)
Add Comment