Begini Strategi Produsen Tempe Tradisional di Lamsel Siasati Kenaikan Harga Kedelai

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah pelaku usaha pembuatan tempe tradisional di Lampung Selatan memiliki strategi khusus siasati kenaikan harga kedelai. Di antaranya dengan mengurangi jumlah kemasan saat dijual untuk mengurangi biaya produksi.

Agus Armanto, pengrajin tempe di Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang menyebut kenaikan bahan baku terjadi sejak tiga pekan terakhir. Kedelai dibeli dari agen seharga Rp10.000 per kilogram. Jenis kedelai impor bahan pembuatan tempe semula seharga Rp7.000 hingga Rp8.000 untuk kedelai kualitas bagus. Ia memilih kedelai impor karena lebih mudah dibuat menjadi tempe.

Sebagai strategi meminimalisir kerugian Agus memilih mengurangi jumlah kemasan saat dijual. Normalnya saat harga kedelai stabil, ia menjual sebanyak 7 bungkus tempe seharga Rp5.000. Semenjak harga kedelai naik ia menjual produk tempe dengan harga yang sama dengan jumlah 6 bungkus.

“Pelanggan tetap umumnya pelaku usaha kuliner gorengan, pemilik warung untuk pembuatan orak arik atau digoreng memakai tepung untuk lauk yang selalu saya setor setiap dua hari sekali, termasuk pedagang pengecer di warung dan pasar tradisional,” terang Agus Armanto saat ditemui Cendana News, Selasa (5/1/2021).

Pengrajin tempe, sebut Agus masih tergantung dari kedelai impor asal Amerika. Saat harga naik, pengrajin skala kecil sepertinya hanya bisa pasrah. Ia memilih tetap beproduksi meski keuntungan menipis.

Sekali proses pembuatan tempe Agus Armanto mengaku membutuhkan sebanyak 75 kilogram kedelai. Bahan baku tersebut diperoleh sebagian dari stok lama saat harga belum naik. Ia rata rata menyiapkan stok sebanyak lima kuintal untuk kebutuhan selama satu bulan.

Agus Armanto, pengrajin tempe menjual tempe buatannya ke sejumlah warung tradisional di Bakauheni, Lampung Selatan, Selasa (5/1/2020). Foto: Henk Widi

Omzet yang turun imbas harga kedelai naik sebutnya mencapai ratusan ribu sekali produksi. Namun ia berharap dengan adanya masukan dari asosiasi pengrajin tempe bisa mendapatkan solusi tersendatnya bahan baku.

Husin, salah satu pembuat tempe terdampak kenaikan harga kedelai mengaku tidak mengurangi ukuran. Normalnya di tingkat pengecer tempe dijual mulai Rp1.000 perbuah sehingga dari produsen disetor sebanyak 7 bungkus tempe seharga Rp5.000. Kini dengan menjual sebanyak 6 bungkus tempe pengecer hanya mendapat keuntungan tipis.

“Pengrajin omzetnya menurun dan pengecer mendapat keuntungan yang tipis dampak modal produksi bahan baku alami kenaikan harga,” cetusnya.

Pembuatan tempe selama dua hari melalui proses fermentasi kerap dilakukan olehnya sebelum hari pasaran. Produsen tempe di Desa Pasuruan itu menyebut hari pasaran di antaranya Selasa,Jumat dan Minggu. Proses pembuatan tempe secara bertahap menurutnya jadi salah satu cara agar pasokan ke pengecer lancar. Sebab ia memilih menjaga kestabilan pasokan ke pelanggan.

Masitoh, pedagang kuliner pengguna tempe mengaku tidak terpengaruh kenaikan harga kedelai. Ia hanya mendapat pasokan tempe rata rata 18 bungkus perhari dari sebelumnya 21 bungkus. Tempe digunakan olehnya untuk pembuatan orak arik serta sebagian digoreng. Kuliner berbahan tempe bagi pemilik warung makan di Jalinsum KM 3 Bakauheni itu menjadi lauk yang digemari oleh pelanggannya.

kedelai imporLampungLamselPengrajin Tempe
Comments (0)
Add Comment