Integrated Learning, Upaya Capai Kompetensi Dasar di PJJ

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Stigma pembelajaran tanpa tatap muka akan menyebabkan ketidaktercapaian kompetensi dasar di tingkat Sekolah Dasar (SD) ditepis oleh aplikasi integrated learning berbasis proyek, yang dilakukan oleh SD Maria Assumpta Klaten, Jawa Tengah. Selama menjalankan satu semester, terlihat para peserta didik menjadi lebih kreatif dan inovatif.

Kepala Sekolah SD Maria Assumpta Klaten, Fabiana Dini saat memaparkan penerapan Integrated Learning berbasis Project di sekolah yang dipimpinnya, dalam acara online pendidikan, Kamis (14/1/2021) – Foto Ranny Supusepa

Kepala Sekolah SD Maria Assumpta Klaten, Fabiana Dini menyatakan, diberlakukannya pelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi, yang dimulai pada 16 Maret 2020 lalu menimbulkan kendala dalam proses pembelajaran.

“Awalnya kami memberlakukan PJJ dengan cara membagikan video pembelajaran, memberikan tugas dan tagihan tugas. Tapi ternyata ini membebani dan memberatkan peserta didik, yang mendorong kami untuk mencari solusi terbaik. Setelah kami menggunakan Integrated Learning yang berbasis project, kami melihat peserta didik berhasil memenuhi kompetensi dasar dan sekaligus mereka terdorong menjadi lebih kreatif, inovatif dan mampu berpikir kritis,” kata Dini dalam acara pendidikan online, Kamis (14/1/2021).

Ia menyatakan saat awal mendengar tentang Integrated Learning ini, dianggap sama dengan mapel tematik terpadu.

“Tapi ternyata berbeda. Masih muncul keluhan dari para orang tua. Akhirnya mendorong kami untuk berbenah dan menemukan Integrated Learning yang berbasis project. Yang mendorong anak-anak untuk terlibat sendiri dan berhasil mengembangkan kecakapan kompeten 4C, yaitu Critical Thinking, Communicate the Knowledge, Creative dan Collaboration,” urai Dini.

Ia menyampaikan bahwa penerapan program Integrated Learning berbasis project ini berhasil menghilangkan kendala yang muncul dalam penyelenggaraan PJJ di sekolahnya.

“Dari kondisi anak-anak, kami melihat ada kendala pada kepemilikan fasilitas IT, baik handphone maupun laptop. Lalu, ketrampilan dalam menggunakan fasilitas itu tidak semua rata. Fakta bahwa dalam tahapan usia tesebut masih membutuhkan pendampingan orang tua, yang harus bekerja di pagi hari karena mayoritas bekerja sebagai petani, pedagang, pengrajin dan PNS. Hanya 1-2 orang saja yang orangtuanya sebagai pengusaha,” urainya lebih lanjut.

Untuk memastikan, semua pihak terkait pembelajaran bisa menjalankan program Integrated Learning berbasis project ini, Dini menyatakan sebelum diaplikasikan dilakukan tahapan persiapan.

“Yang pertama, tentunya sosialisasi pada para pendidik. Yang tidak mudah juga. Karena membutuhkan kerelaan hati dari para pendidik dalam mencapai ketercapaian kompetensi,” paparnya.

Dilakukan juga analisis kompetensi dasar pada semua mata pelajaran di setiap jenjang, yang mengikuti kebutuhan PJJ.

“Setelah itu, dilakukan persiapan untuk guru pendamping tiap jenjang terkait tahapan dan penilaian project based learning. Terakhir baru melakukan sosialisasi pada orang tua murid,” paparnya lebih lanjut.

Dini menjelaskan dalam pengaplikasian Integrated Learning berbasis project, ada tiga pola yang dilakukan.

“Tatap muka visual daring untuk menjelaskan ataupun mengecek tingkat pemahaman siswa terhadap bahan dasar esensial, luring seminggu sekali dengan sistem drive-thru dimana orang tua mengambil handout atau bahan belajar untuk pendalaman materi esensial dan proyek yang diberikan pada siswa dalam bentuk lembar kerja yang dipersiapkan guru untuk mempraktikkan hasil pendalaman bahan belajar,” ujarnya.

Ketua Yayasan SD Maria Assumpta, Sr. Veronika menyampaikan esensi program Integrated Learning berbasis project ini mengintegrasikan beberapa mata pelajaran untuk membuat project sesuai minat.

“Tidak mudah memang dalam menjalankannya. Tapi setelah satu semester dijalankan, terlihat berjalan baik. Kami siap untuk menjalankan di semester genap ini,” kata Sr. Vero dalam kesempatan yang sama.

Ia menyatakan saat awal penerapan program ini, ada pertentangan dari orang tua.

“Jadi orang tua masih memandang bahwa yang namanya belajar itu guru menjelaskan, anak mendengar. Lalu guru memberi tugas atau PR, anak mengerjakan,” ucapnya.

Bahkan, lanjutnya, ada orang tua yang ingin menarik anaknya dari sekolah karena menganggap bahwa sistem yang baru tersebut bukanlah sistem belajar yang baik.

“Tapi dengan dilakukan sosialisasi secara online. Kami menjelaskan apa manfaat dari Integrated Learning ini dalam mendorong anak menjadi lebih kreatif dan kritis. Akhirnya semua berjalan baik dan terlihat hasilnya, anak-anak lebih kreatif, daya pikir kritisnya berkembang dan mampu berinovasi memanfaatkan ilmu yang mereka miliki,” pungkasnya.

Integrated Learningpandemipelajaran jarak jauh
Comments (0)
Add Comment