Kelestarian Vegetasi Pantai Dukung Sektor Tambak Berkelanjutan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Potensi kelestarian vegetasi tanaman di pesisir pantai timur Lampung Selatan masih terjaga hingga kini berkat kepedulian masyarakat setempat. Kesadaran akan pentingnya mangrove juga meningkat pasca terjadi abrasi. Sejumlah lokasi tambak tergerus gelombang pantai timur.

Timbul, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi yang memiliki lahan tambak udang putih atau vaname tradisional di dekat pantai timur dan sungai Way Sekampung menyebutkan, kerusakan oleh abrasi sumber kerugian petambak mulai diantisipasi dengan penanaman ulang vegetasi pantai.

Vegetasi pantai yang mulai ditanam oleh warga pesisir di antaranya bakau bakau (Rhiziphora), api api (Avecennia), pandan laut (Pandanius tectorius) dan sejumlah tanaman lain. 

“Sistem tambak tradisional sangat tergantung oleh tanaman bakau dan vegetasi pantai lain karena sangat berguna untuk menjaga kualitas air, meredam kerusakan oleh angin dan gelombang untuk budidaya udang, ikan berkelanjutan,” terang Timbul saat ditemui Cendana News, Rabu (26/1/2021)

Cara yang dilakukan petambak menjaga kelestarian vegetasi pantai dengan meminimalisir pembuangan limbah pasca panen yang dikenal dengan lumpur penyiponan, penuh dengan material sisa pakan. Imbasnya pendangkalan, aroma busuk dan bahan kimia terbuang ke laut. Pembuatan tandon, kolam penampung dilakukan petambak cegah limbah dibuang sembarangan.

“Saat ini mulai muncul kesadaran bagi petambak untuk melakukan sistem pembuangan limbah yang aman,” terang Timbul.

Petambak dan pemilik lahan pertanian, Agus, warga Desa Bandar Agung menyebut vegetasi pantai mendukung sektor perikanan dan pertanian. Kawasan hutan mangrove, pandan, rumbia di sepanjang pesisir pantai yang masih terjaga ikut menjaga lahan dari abrasi.

“Keberadaan vegetasi mangrove ikut membantu proses peresapan air saat penghujan dan gelombang pasang,” cetusnya.

Warga pesisir pantai timur sebutnya secara swadaya melakukan penyulaman bakau dan api api. Kedua jenis tanaman itu menjadi penyaring air laut sebelum masuk ke kawasan tambak. Pembuatan embung yang ditanami dengan mendong, lembang dan ganggang ikut menjaga kualitas air. Sistem tumpangsari atau silvofishery memadukan hutan mangrove dan tambak berkelanjutan.

Suyanto, kepala unit kesatuan polisi kehutanan KPH Wilayah XIII Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok saat berada di pesisir timur Desa Bandar Agung,Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Sabtu (27/1/2020) (Dok CDN)

Tambak berkelanjutan berkonsep silvofishery memadukan hutan pantai dan tambak terus didorong instansi terkait. Suyanto, kepala unit polisi kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah XIII Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok mengaku menjaga vegetasi pantai mutlak dilakukan.

“Pembukaan lahan tambak baru telah dilarang, namun justru mendorong petambak ikut melestarikan mangrove di dekat areal tambak,” bebernya.

Memadukan hutan mangrove dan tambak, sebut Suyanto, ikut menjaga kelestarian pesisir pantai. Konsep menjaga hutan mangrove api api dan bakau dilakukan warga bersama Dinas Kehutanan dengan menjadikan kawasan eko wisata. Hasilnya petambak tidak akan melakukan perusakan hutan mangrove. Sebaliknya petambak dengan tumpang sari memanfaatkan vegetasi untuk sistem tambak berkelanjutan berkonsep silvofishery.

abrasiLampunglampung selatanLamselmangrove
Comments (0)
Add Comment