Meski Terimbas COVID-19, Pedagang Bunga Palsu di Semarang Tetap Bertahan

Editor: Mahadeva

SEMARANG – Pandemi COVID-19, turut berimbas pada penurunan penjualan bunga palsu atau artificial. Banyak perkantoran hingga sekolah, yang selama ini menjadi pelanggan tetap, mengalihkan pembiayaan anggaran untuk hal lain, utamanya untuk penanganan corona.

Hal tersebut disampaikan Prasetya, pedagang bunga palsu, yang ditemui Cendana News di sela berjualan di jalan Arteri Soekarno Hatta Kota Semarang, Selasa (26/1/2021). “Semenjak ada pandemi penjualan turun, hampir 50 persen. Biasanya banyak perkantoran atau sekolah yang mengambil bunga kesini, tapi sekarang sepi. Contohnya, pada Januari ini biasanya ramai, namun ternyata tidak berubah, masih sepi,” terangnya, Selasa (26/1/2021)

Salah seorang pembeli bunga palsu, Fani, saat menunjukkan bunga yang dibelinya, di kawasan jalan Arteri Soekarno Hatta Kota Semarang, Selasa (26/1/2021). Foto Arixc Ardana

Umumnya, pada awal tahun banyak perkantoran hingga sekolah, yang melakukan dekor ulang ruangan, seperti ruang kerja, kelas atau ruang guru. Seringkali, mereka menggunakan bunga artificial untuk mempercantik ruangan. “Sepi, kalaupun ada ya satu sampai dua orang yang datang. Padahal dari segi harga, kita lebih terjangkau dibanding harga toko. Selisihnya bisa Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per-bunga. Meski demikian penjualan tidak bisa dipastikan,” terangnya.

Untuk bunga palsu, dengan tangkai kreasi batang bambu, hanya dijual Rp8 ribu per-bunga. Sementara untuk bunga artificial, yang seluruhnya buatan pabrik, dijual antara Rp50 ribu sampai Rp 100 ribu per-tangkai bunga. “Bunga yang saya pilih ini, umumnya jenis bunga yang saat ini digemari masyarakat. Misalnya bunga sepatu, tulip, atau matahari. Harapannya, agar cepat laku terjual,” lanjutnya.

Kini, usaha yang dikelolanya juga menyediakan beragam jenis bunga atau tanaman hias yang sedang tren. Tentu saja seluruhnya merupakan bunga atau tanaman artificial. Seperti keladi, monstera, hingga anthurium. “Ini, buat menarik pembeli, siapa tahu mereka tertarik untuk membeli, jadi saya sediakan bunga atau tanaman hias yang lagi trend,” tandas Prasetya.

Tidak hanya bunga, dirinya juga menyediakan beragam vas atau pot, yang bisa dipilih. Mulai dari vas tembikar, bambu hingga rotan. Sementara, salah seorang pembeli Fani, mengaku membeli bunga palsu untuk mendekor ulang ruang tamu di rumah miliknya. “Sudah lama tidak ganti, jadi mau penyegaran ruangan. Bunga yang lama sama buang, ganti yang baru. Biar semakin bagus ruang tamunya,” jelasnya.

Disinggung kenapa memilih bunga palsu, dibanding bunga asli atau tanaman hidup, warga Penggaron Kota Semarang tersebut, mengaku bunga palsu lebih mudah perawatannya dibanding bunga hidup. “Kalau ini, kan cukup di lap saja jika kotor atau kena debu. Tidak perlu menyirami. Selain itu juga lebih bersih, karena tidak perlu tanah dalam pot. Jadi lebih mudah saja, perawatannya,” terangnya.

bungabunga palsucoronaCOVID-19Jatengpandemisemarang
Comments (0)
Add Comment