Pedagang Kuliner di Lampung Batasi Stok Daging

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pedagang kuliner berbasis daging di Bandar Lampung, mulai mengurangi stok bahan baku daging, menyusul masih tingginya harga komoditas tersebut. Selain itu, juga dampak pembatasan aktivitas yang membuat jumlah penjualan kuliner berbahan daging juga berkurang.

Husiah, pedagang kuliner berbahan daging mengaku hanya menyiapkan stok 20 kilogram daging sapi, 10 kilogram daging kambing dan 5 kilogram daging sapi. Jumlah tersebut berkurang imbas semua jenis daging mengalami kenaikan harga rata rata Rp10.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Pedagang di Jalan Ki Maja, Way Halim, Bandar Lampung itu menyebut, kenaikan harga daging berlangsung sejak sepekan. Bahan baku dari hasil peternakan tersebut berasal dari sejumlah rumah potong hewan (RPH). Distributor daging akan mengirim bahan baku kuliner sate, sop, tongseng tersebut menyesuaikan permintaan.

Sop dan sate sapi dinikmati oleh Kristina di Jalan Ki Maja, Way Halim, Bandar Lampung, Senin (25/1/2021) malam. -Foto: Henk Widi

Pengurangan stok daging sapi, kambing dan ayam, sebut Husiah, dipengaruhi dua faktor. Pertama, harga bahan baku daging naik dari RPH dan distributor mendorong ia mengurangi jumlah pembelian. Sebab, modal yang sama akan mengurangi jumlah pembelian. Semula harga Rp120.000 menjadi Rp140.000 per kilogram. Daging sapi dari semula Rp90.000 naik menjadi Rp100.000 per kilogram. Ayam semula Rp25.000 menjadi Rp30.000 per kilogram.

“Harga bervariasi, namun umumnya naik karena ikut terpengaruh aktivitas pedagang sapi yang mogok di Jawa dan dampak sejumlah komoditas pertanian yang naik selama musim penghujan, sekaligus dari petani peternak mengalami kesulitan mencari pakan,” terang Husiah, Senin (25/1/2021) malam.

Faktor ke dua, sebut Husiah, stok daging sengaja dikurangi imbas cuaca dominan hujan di Bandar Lampung. Sebulan terakhir hujan yang kerap terjadi pada malam hari membuat kuliner yang dijual olehnya sepi pembeli. Kerap menyediakan sekitar 1.000 tusuk sate per malam, kini ia hanya menjual 700 tusuk semua jenis daging. Hal yang sama pada porsi sop, soto dan tongseng yang disediakan olehnya.

Faktor ke tiga, sebutnya, makin diketatkannya protokol kesehatan. Sejak angka kasus Covid-19 meningkat, razia untuk mengurangi angka kerumunan ikut berdampak pada usaha kuliner miliknya. Sejumlah pelanggan yang kerap makan di tempat (din inn) memilih untuk pesan dengan dibungkus (take away) untuk dimakan di rumah. Pengaruhnya jenis minuman dan pelengkap seperti sop tidak terjual.

“Ada pelanggan kalau makan di tempat pesan lengkap dengan sop, tapi saat pesan dibungkus hanya satenya saja, bahkan tanpa nasi,” cetusnya.

Berdasarkan pengalaman itu, ia memilih mengurangi stok untuk meminimalisir kerugian. Meski harga daging sapi, kambing dan ayam turun, namun dalam kondisi pandemi Covid-19 hasil penjualan berkurang. Berjualan di lokasi strategis dekat pusat perbelanjaan, menurutnya masih menjadi penentu usahanya berjalan lancar.

Indah, pedagang daging sapi di Pasar Bambu Kuning, menyebut harga daging masih tinggi. Normalnya, harga daging sapi hanya Rp120.000. Namun dalam dua pekan terakhir, bisa mencapai Rp130.000. Kualitas daging tanpa tulang, bahkan bisa mencapai Rp140.000 per kilogram. Konsumen daging sapi, menurutnya dominan pemilik usaha kuliner.

Daging sapi, katanya, diperoleh dari  RPH untuk menjamin mutu dan surat veteriner. Sehari, ia menyediakan stok 150 hingga 200 kilogram untuk pelanggan. Pemilik warung bakso, warung soto, rawon dan sate menjadi pelanggan tetap. Permintaan yang menurun imbas harga naik. Pasokan akan ditambah saat harga kembali normal, dan daya beli masyarakat meningkat.

BandardagingKambingLampungPedagangSapisateSOP
Comments (0)
Add Comment