KH Cholil Ridwan: Pak Harto Tampil Berantas PKI

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Dewan Pendiri dan Pengasuh Pengajian Politik Islam (PPI), KH. Cholil Ridwan, mengaku sangat kagum dan angkat topi untuk HM Soeharto, atas keberaniannya menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari perebutan kekuasan Partai Komunis Indonesia (PKI).

HM Soeharto yang di kemudian hari menjadi Presiden ke-2 RI, menurutnya telah tampil berani dalam memberantas Gerakan 30 September atau G30S PKI.

“Terlepas dari kelemahan saya menangkap suasana waktu itu, saya malah angkat topi kepada Pak Harto atas keberanian dan kesadarannya akan bahaya komunis. Beliau mengambil alih menyelamatkan bangsa kita dari pemberontakan gerakan PKI,” ujar Cholil, kepada Cendana News di Jakarta, Selasa (30/3/2021).

Pak Harto dengan jiwa militernya, kata dia, sangat menyadari kalau PKI sudah merajalela ingin menguasai negara ini. Namun dengan gerak cepatnya, Pak Harto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Sementara Angkatan Darat menugaskan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo selaku Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), untuk menumpas PKI yang memberontak di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur.

“Tahun 1965, PKI sukses menculik dan membunuh para jenderal di Lubang Buaya. Pak Harto menugaskan Pak Sarwo Edhie dan pasukan RPKAD untuk menyisir PKI di Lubang Buaya, dan menumpasnya. Atas keberanian sikap Pak Harto bertindak tegas itu PKI bisa diberantas,” ujar Cholil.

Selain itu, Pak Harto juga menugaskan pasukan baret merah, yakni RPKAD, yang saat ini berganti nama menjadi Koppasus (Komando Pasukan Khusus) ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Itu kan merupakan jasa yang nyata, ngirim tentara ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk membasmi kekuatan komunis. Bagaimana pun, negara harus melindungi agama yang dipeluk oleh mayoritas,” katanya, yang merupakan mantan Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya.

Dikatakan dia, satu-satunya paham yang menganggap agama itu racun adalah komunis. Tidak ada isme yang menjadikan untuk berkuasa itu harus revolusi atau membunuh.

Maka, sebut dia, Uni Soviet menjadi negara komunis setelah dua tiga kali kudeta, begitu juga dengan Cina. Korban dari perebutan kekuasaan komunis itu adalah membunuh rakyat sendiri sampai ratusan juta jiwa.

“Itu yang nggak masuk akal, rakyat sendiri dibunuh, baik di Cina maupun Uni Soviet dan Vietnam,” tukasnya.

Di Indonesia, paham komunis diwarisi oleh Muso dan Aidit. Saat Indonesia baru merdeka, Muso kembali lagi ke Indonesia dari Rusia atau Uni Soviet.

“Dia (Muso) pulang dari Rusia mendirikan negara Soviet Indonesia, sehingga banyak bupati dan kiai dibunuh pada 1948,” ujar KH.Cholil.

Menurutnya, PKI sudah tiga kali berupaya melakukan pemberontakan di Indonesia. Dimulai 1928, selanjutnya 1948, dan terakhir pada 1965 yang membuat banyak korban berjatuhan.

Indonesia merdeka pada 1945, dan kudeta PKI pada 1948. Dalam kudeta itu, menurutnya ada gubernur Jawa Timur yang diseret berkilo-kilo meter, dibunuh.

“Gubernur Jatim itu pulang dari acara keluarganya di Yogyakarta, ditangkap di Ngawi, kemudian dibunuh. Itu perbuatan PKI,” tukasnya.

Pada 1965, PKI berontak lagi. Bahkan pada 1928 juga sudah berontak di zaman Belanda. “Tapi di 1928 itu gagal, berontak lagi di 1948 dan gagal lagi. Tahun 1965 berontak lagi, yang dibunuh nggak tanggung-tanggung, para Jenderal Angkatan Darat,” ujarnya.

Bahkan dalam flim G30S PKI, kata dia, Aidit mengatakan kalau mereka itu ibarat setan, ada tapi tidak kelihatan. “Itu bisa dibenarkan omongan Aidit itu.Bahwa PKI bisa dibubarkan, tapi paham dan ideologinya nggak bisa dihilangkan. Jadi, yang dilarang itu PKI-nya, komunisnya tetap gentayangan sampai sekarang,” imbuhnya.

Contohnya, sebut dia, di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada orang pura-pura gila menganiaya kiai. Bahkan, ada kiai yang sampai meninggal di dalam pesantren dan masjid karena ulah orang yang pura-pura gila.

Kemudian, almarhum Syekh Ali Jaber, saat ceramah di Lampung ditusuk seorang pemuda. “Saya tidak katakan itu PKI, ya. Tapi, kalau bukan paham komunis yang mempengaruhi pemuda itu, nggak berani, nggak tega dia berbuat seperti itu pada ulama. Yang tega itu hanya komunis,” tukasnya.

Bahkan, kata dia, dalam buku Banjir Darah,  sangat jelas diungkapkan, kiai-kiai di salah satu pesantren di desa Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, itu mereka dibunuh oleh komunis.

“Kiai-kiai itu bilangnya ada rapat supaya ikut, tahunya dibawa ke pabrik gula, dikumpulin, lalu dibakar, dibunuh dan sebagainya,” ujarnya.

Menurutnya, kekejaman PKI masih dikenang kuat oleh masyarakat. “Makanya kita tidak boleh melupakan sejarah kelam bangsa ini,” ujarnya.

Dia menegaskan, keputusan MPR yang mengeluarkan TAP MPRS No. 25 Tahun 1966, tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia dan melarang komunisme, sangat jelas.

Saat itu, para ulama sejalan dengan pemikiran Pak Harto, yakni ingin menyelamatkan NKRI dari perebutan kekuasaan oleh PKI.

“Pak Harto tampil berantas PKI. Kita rindukan pemimpin yang seperti itu, yang atas keberanian dan kesadarannya akan bahaya komunis hingga dirinya bergerak menumpasnya,” paparnya.

Dalam perkembangan zaman sekarang ini, dia berharap pemerintah tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada PKI untuk bangkit.

“Sekarang, misalnya PKI dilarang, tapi ada yang duduk di parlemen. Ada kaus lambang palu arit, katanya itu tren anak muda,” ujarnya.

Cholil berharap, agar pemerintah berpihak kepada aspirasi rakyat dan umat. Apalagi, komunis itu pada hakekatnya atheis, menolak semua agama.

“Bagi mereka, agama adalah racun, dan Indonesia ini penduduknya mayoritas muslim,” pungkas KH. Cholil Ridwan, yang merupakan pendiri pondok pesantren Husnayain.

DKIJakartakiaiKomunisPKIsoehartoUlama
Comments (0)
Add Comment