Musim Penghujan Pengaruhi Omzet Pedagang Pinggir Jalan Bandar Lampung

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Musim penghujan yang berdampak pada pengurangan omzet pedagang pinggir jalan di Bandar Lampung. Hujan yang kerap turun sejak sore hingga malam berimbas terganggunya jam operasional pedagang.

Ratna, pedagang roti di Jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang menyebutkan, hujan berimbas ia tutup lebih awal. Normalnya sebelum pandemi Covid-19 dan cuaca terang ia membuka lapak tempat jualan hingga jam 23.00 WIB.

Ratna bilang berjualan roti di tepi jalan memanfaatkan tenda mini. Saat penghujan ia harus menyiapkan plastik penutup agar barang dagangan tidak basah. Selain dampak cuaca hujan pedagang pinggir jalan wajib mematuhi aturan jam operasional. Hal tersebut sesuai Surat Edaran Wali Kota Bandar Lampung No.440/133/IV.06/2021 Tentang Pembatasan Jam Operasional Kegiatan Usaha.

Pengaruh hujan sebutnya mengurangi jumlah pelanggan yang datang. Sebab lokasi berjualan di dekat pasar Tugu membuat pelanggan didominasi warga dengan kendaraan roda dua. Pada kondisi normal sehari ia bisa menjual sekitar 100 hingga 200 bungkus roti. Berbagai roti dengan varian isian hingga roti tawar, kue kering juga dijual olehnya. Imbas penghujan ia hanya menjual maksimal 150 bungkus perhari. Omzet semula lebih dari Rp800.000 turun menjadi Rp300.000 per hari.

“Pembatasan jam operasional pedagang pinggir jalan sudah kami patuhi maksimal hingga jam 22.00 WIB namun sejak sebulan terakhir hujan kerap turun terutama jelang sore hingga malam hari, solusinya tutup lebih cepat karena usaha berjualan roti hanya mengandalkan tenda kecil, pembeli juga berkurang,” terang Ratna saat ditemui Cendana News, Selasa malam (2/3/2021).

Ratna bilang ia masih tetap bisa berjualan sejak pagi hingga sore. Namun lapak yang digunakan lebih sempit sebab lokasi berjualan merupakan teras sebuah toko. Saat toko tutup pada sore hari ia bisa menjual roti memakai tenda mini yang dirangkai dengan besi. Imbas angin dan hujan tenda tersebut kerap tampias.

Pedagang buah semangka, Herianto menyebutkan, lokasi berjualan di pinggir jalan diakali dengan payung khusus. Dalam sepekan ia menyediakan sebanyak dua kuintal semangka tanpa biji. Normalnya setiap hari ia bisa menjual sebanyak 50 kilogram buah semangka. Namun imbas penghujan penjualan berkurang.

“Kendala pedagang buah pinggir jalan seperti saya saat penghujan konsumen alami penurunan karena malas keluar rumah terlebih saat malam hari,” cetusnya.

Herianto, pedagang buah semangka di Jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang, Bandar Lampung menggunakan payung untuk berjualan imbas musim penghujan, Selasa (2/3/2021). Foto: Henk Widi

Dampak penghujan dirasakan juga oleh puluhan pedagang kuliner di Jalan Ikan Gurame, Teluk Betung. Lokasi yang dikenal sebagai pusat berbagai usaha kuliner tersebut ikut terpengaruh pandemi dan penghujan. Icang, pemilik usaha sop daging, kikil sapi menyebut penurunan jumlah pelanggan terjadi sejak setahun terakhir. Ia memilih mengurangi stok barang untuk dijual terlebih jam operasional usaha dibatasi hingga pukul 22.00 WIB.

“Imbas pandemi dan musim penghujan makan di tempat berkurang, namun pesanan online tetap ada,” cetusnya.

Kebijakan dari satgas Covid-19 sebutnya dilakukan setelah Bandar Lampung bebas dari zona merah. Sejumlah pelaku usaha kuliner pinggir jalan sebutnya tetap bisa beroperasi. Syaratnya pemesanan makanan dilakukan dengan sistem makan dibawa pulang (take away) dan antar pesan. Musim penghujan juga secara tidak langsung berimbas pelanggan menunda makan di luar berimbas penurunan penjualan.

Bandar LampungCOVID-19Lampung
Comments (0)
Add Comment