Pandemi, Bisnis Tanaman Anggrek di Banyumas Laku

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Berawal dari rasa kekaguman akan keindahan bunga anggrek yang bisa bertahan hingga tiga–enam bulan lebih, Tangkas Pamuji, warga Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, kini meraup keuntungan hingga jutaan rupiah per minggu.

Hamparan tanaman anggrek dari berbagai jenis terlihat berjejer rapi saat kita memasuki Rumah Anggrek Kalibagor. Pada lahan yang hanya seluas 3 x 18 meter tersebut, aneka jenis tanaman anggrek tersedia lengkap. Mulai anggrek dari Kalimantan, Maluku, Sulawesi hingga Papua.

“Ada beberapa jenis anggrek yang kita beli dari luar Jawa, kemudian kita budidayakan sendiri di sini,” kata Tatang, sapaan Tangkas Pamuji, Selasa (2/3/2021).

Pelaku bisnis anggrek, Tangkas Pamuji (baju kuning) sedang melayani pembeli di Kalibagor, Selasa (2/3/2021). Foto: Hermiana E. Effendi

Terkait usahanya yang sudah memasuki tahun kedua ini, Tatang bertutur, ia hanya mengeluarkan modal awal Rp 750 ribu saja untuk membeli beberapa jenis tanaman anggrek.

Kemudian ia budidayakan dengan melakukan pembibitan menggunakan botol dan hasilnya cukup bagus. Dari modal tersebut, kini Tatang sudah memiliki ratusan jenis tanaman anggrek.

Jenis anggrek yang paling laku di pasaran saat ini adalah Anggrek Dendro. Selain bunganya yang mempunyai tekstur warna cerah, anggrek ini harganya cukup terjangkau. Mulai dari Rp 60 ribu per batang, Rp 65 ribu, Rp 75 ribu, Rp 90 ribu hingga ratusan dan jutaaan rupiah juga ada.

“Untuk Anggrek Dendro ini paling banyak kita budidayakan, karena selain paling laku di pasaran, anggrek ini juga cocok dengan cuaca di Banyumas yang sedikit hangat. Sehingga untuk budidayanya cukup mudah, karena faktor cuaca mendung. Hal ini berbeda dengan anggrek jenis bulan yang harus tumbuh pada suhu lembab,” terangnya.

Rumah Anggrek Kalibagor ini dikelola berdua oleh Tatang bersama istrinya, Anggit. Meskipun memiliki beberapa pekerja yang mengurus tanaman, Tatang tetap selalu ikut turun menangani anggrek-anggreknya.

Sementara sang istri, bagian mengurus manajemen serta pemasaran. Menurut Anggit, selama ini sebagian besar pangsa pasar anggrek adalah dari para penjual tanaman keliling. Mereka ada yang dari Banyumas saja, ada juga yang berasal dari Kebumen, Purbalingga dan lainnya.

“Kita juga membuka pemasaran online, bahkan anggrek kita sudah kirim hingga ke Aceh, Sumatera serta Kalimantan dari penjualan online. Terlebih di tengah pandemi Covid-19 ini, tanaman menjadi salah satu tren baru yang banyak digemari orang untuk membuang kejenuhan dan mengisi waktu di rumah,” kata Anggit.

Baik Tatang maupun Anggit mengaku tidak ada kendala yang berarti selama menjalani bisnis anggrek ini. Sebab, keduanya mengaku menjalani bisnis yang juga menjadi hobi mereka.

AnggrekbibitCuacaJatengModaltanamanteksturTumbuhwarna
Comments (0)
Add Comment