Mutasi Virus Bukan Faktor Utama Peningkatan Covid-19

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Mutasi virus bukan faktor utama terjadinya peningkatan kasus Covid-19. Namun kerumunan masyarakat dengan mengabaikan protokol kesehatan dapat membuka potensi kenaikan kasus aktif virus corona.

Ahli virologi dari Universitas Udayana Bali, Prof. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, mengatakan, tingginya kasus pandemi Covid-19 di India, tidak hanya dikontribusi oleh adanya mutasi virus.

Yakni, melainkan adanya kerumunan masyarakat India dan abai terhadap protokol kesehatan, seperti upacara keagamaan dan kampanye politik yang terus digelar tanpa mematuhi protokol kesehatan.

Selain itu faktor lainnya adalah eforia vaksinasi di India yang masih terlalu dini. I Gusti berharap tsunami Covid-19 tidak terjadi di Indonesia, mengingat vaksinnya masih sekitar 2,5 persen.

“Jangan ada tsunami virus dan eforia vaksin di Indonesia. Jika terjadi mutasi virus SARS-CoV-2 di Indonesia diharapkan tidak mengarah ke virus yang lebih ganas,” ungkap I Gusti, pada webinar tentang pencegahan mutasi virus di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Jumat (30/4/2021).

Pada dasarnya kata dia, mutasi virus akan terjadi pada virus dengan dua kemungkinan. Yakni menjadi ganas dan tidak ganas.

Dia berharap pemerintah Indonesia bisa belajar dari negara India. Yakni Indonesia tidak menyelenggarakan acara apa pun yang bisa menimbulkan kerumunan. Karena mutasi virus Covid-19 itu tidak dapat dihindari.

“Jadi, meskipun mutasi bukan faktor utama. Tapi virus itu pasti bermutasi menjadi lebih ganas. Ya diharapkan Indonesia belajar dari India,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia menyebut, bahwa saat ini mutasi virus SARS-CoV-2 di India juga terdapat di 11 negara di dunia.

Sehingga dia menyarankan agar masyarakat tetap waspada dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dalam beraktivitas. Di antaranya, menghindari kerumuman massa dan memakai masker.

Jika masyarakat abai terhadap prokes kesehatan, menurutnya, akan dapat membuka potensi kenaikan kasus aktif, yang akhirnya diikuti dengan angka kematian.

“Jadi, ketika ada kenaikan kasus, ini akan diikuti letupan angka kematian, berbahaya. Ya seperti di India,” tukasnya

I Gusti berharap pemerintah segera mempercepat coverage vaksinasi, sehingga pandemi Covid-19 di Indonesia segera berakhir.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Darmawan, berharap jangan sampai tsunami Covid-19 yang terjadi di India, terjadi di Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Darmawan, saat memaparkan soal penularan virus Covid-19 di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Jumat (30/4/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Sehingga dia mengimbau masyarakat Indonesia harus peduli dengan lingkungan sekitarnya.

“Penyebab utama melonjaknya kasus di India karena kerumunan. Jangan sampai di Indonesia terjadi tsunami Covid-19. Maka, kita harus mencegah dengan prokes,” ujar Ede, pada acara yang sama.

Menurutnya, yang memiliki tugas untuk mengedukasi dan mengawasi masyarakat terkait prokes itu sebenarnya bukanlah pemerintah, tetapi masyarakatnya.

Karena setiap unsur masyarakat memiliki peranan paling besar untuk mempengaruhi masyarakat lainnya agar taat terhadap prokes.

Contohnya, kata dia, jika ada warga yang tertular, maka harus segera ditangani. Juga harus saling mengingatkan pentingnya memakai masker.

“Kita harus mampu untuk selalu mengingatkan pentingnya prokes. Jika tidak mampu dan sadar, ini akan jadi masalah bagi kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

indiaJakartaMaskerMutasiProkesvaksinVirus
Comments (0)
Add Comment