Pelestarian Pohon Dukung Keberlanjutan Bahan Perahu dan Bangunan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Pelestarian pohon kayu bahan perahu dan bangunan dipertahankan warga dengan sistem tebang pilih. Jenis pohon pule, nangkan, kayu tabu dan laban dipertahankan karena sudah langka.

Lukman, nelayan di Pegantungan, Bakauheni, Lampung Selatan menyebut pelestarian dengan cara tebang pilih dilakukan pada jenis pohon tertentu. Berbagai jenis pohon itu sebut Lukman sebelum dimanfaatkan memiliki manfaat ekologis.

Berbagai jenis tanaman yang mulai langka itu sebutnya banyak tumbuh di area perbukitan. Manfaat untuk penahan longsor, penjaga ekosistem air dan habitat burung masih diperlukan. Meski demikian pemanenan pohon tetap dilalukan saat dibutuhkan untuk perahu dan bangunan dekat air.

Pelestarian dengan peremajaan tanaman baru sebut Lukman dilakukan pada sejumlah pohon tertentu. Jenis pohon pulai, nangkan, kayu tabu dan laban menjadi tanaman yang sulit tumbuh. Namun dengan upaya pelestarian memakai sistem generatif sejumlah tanaman bisa dilestarikan. Beberapa jenis pohon baru bisa ditebang saat usia belasan tahun.

“Sebagian pohon bahan pembuatan perahu merupakan tanaman yang sudah tumbuh alami bertahun tahun, kalaupun ada yang menanam akan dipanen saat diameter pohon telah mencapai ukuran yang diinginkan lalu dilakukan penanaman bibit baru,” terang Lukman saat ditemui Cendana News, Rabu (7/4/2021).

Kayu pule, kayu tabu dan laban yang mulai langka ditanam oleh Lukman sebagai bahan pembuatan perahu di Pantai Pegantungan, Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (7/4/2021). -Foto Henk Widi

Lukman menyebut sebagian nelayan kerap harus memesan kayu milik petani. Petani yang memiliki pohon bahan perahu akan dibeli dengan sistem tebas. Nelayan akan memberikan uang sesuai harga yang disepakati lalu proses penebangan dilakukan saat dibutuhkan. Petani selanjutnya akan melakukan penanaman bibit baru di dekat lokasi pohon yang ditebang.

Marjaya, salah satu pemilik bagan apung menyebut menyediakan bahan baku dengan menanam di kebun. Bahan yang digunakan meliputi bambu, kayu pule, kayu jati dan kayu bayur. Pelestarian berbagai jenis tanaman kayu itu sebutnya sangat penting dilakukan. Sebab kebutuhan untuk nelayan semakin meningkat sementara penanaman berkurang.

“Pemanenan kayu sistem tebang pilih kami lakukan agar ada bibit baru untuk digunakan tahap selanjutnya,” ulasnya.

Warga lain bernama Subawi menyebut pelestarian pohon dilakukan untuk kebutuhan ekonomis dan ekologis. Secara ekonomis kayu jenis sengon, bayur dan medang bisa dimanfaatkan untuk bahan perahu dan bangunan. Perahu tradisional memakai bahan kayu dipergunakan untuk bagian dinding, lunas hingga buritan. Berbagai jenis kayu bisa digunakan namun tingkat ketahanan pada air lebih diutamakan.

Menanam pohon selama minimal lima tahun sebutnya akan memiliki manfaat ekologis. Sebelum dipanen berbagai jenis pohon akan bermanfaat menjadi penyerap air, penahan longsor. Sejumlah pohon yang sengaja tidak ditebang jenis laban, pulai, nangkan menjadi sumber benih. Benih sebagian diregenerasi secara alami oleh burung, tupai dan kalong.

“Jika tidak dilestarikan jenis kayu bahan perahu, bagan, bangunan tepi pantai semakin langka sulit diperoleh,” tegasnya.

Miang, pengguna kayu bayur dan jati menyebut selain bahan perahu dan bagan jenis kayu itu bagus untuk bangunan. Bangunan di tepi laut yang mudah terkena korosi oleh garam akan awet pada jenis kayu tertentu. Penggunaan kayu sebutnya tetap harus diiringi dengan penanaman, peremajaan. Pelestarian dilakukan olehnya dengan melakukan penanaman bibit baru di kebun miliknya.

LampungLamselnelayanPelestarian Pohonperahu
Comments (0)
Add Comment