PTM Timbulkan Kecemasan Sejumlah Orang Tua di Banyumas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kabupaten Banyumas semakin meluas, artinya semakin banyak anak yang harus mulai berangkat dan belajar di sekolah. Sebagian besar orang tua memang mengizinkan anaknya untuk mulai PTM, mengingat sudah terlalu lama proses pembelajaran daring dan sudah menimbulkan kebosanan. Namun tetap saja, izin tersebut diberikan masih  diliputi rasa kekhawatiran.

Sebagaimana diungkapkan salah satu wali murid, Ustaz Mukorobin yang mengaku masih was-was melepas anaknya mengikuti PTM. Menurutnya, untuk anak usia Sekolah Dasar (SD), kesadaran untuk menjaga diri masih seringkali luput, terlebih jika sudah berkumpul dengan teman-temannya.

“Kalau soal izin, ya saya izinkan, karena anak juga sudah bertanya-tanya terus kapan bisa sekolah lagi. Tetapi kecemasan pasti ada, karena melepas anak dalam waktu cukup lama, yaitu sekitar 4 jam berada di luar rumah dan di luar pengawasan kita,” tuturnya, Kamis (22/4/2021).

Lebih lanjut Ustaz Mukorobin menyampaikan, untuk menghilangkan rasa was-was, ia mengunjungi sekolah anaknya terlebih dahulu dan melihat langsung persiapan PTM. Mulai dari sarana protokol kesehatan yang disiapkan pihak sekolah, hingga penjelasan secara terperinci dari guru tentang proses pembelajaran PTM.

Mulai dari para guru yang sudah melakukan vaksin dan rapid tes antigen terlebih dahulu, kemudian untuk anak dan guru yang sakit tidak diperbolehkan untuk berangkat ke sekolah, serta pengawasan dari pihak sekolah selama proses pembelajaran tatap muka berlangsung, termasuk saat istirahat.

“Setelah mendengar penjelasan dari pihak sekolah, kekhawatiran saya berkurang, karena pihak sekolah berjanji melakukan pengawasan ketat selama anak berada di sekolah, terutama untuk menjaga jarak dan tidak berkerumun dengan teman-temannya. Selain itu, jam istirahat juga dipersingkat dan siswa tidak diperbolehkan untuk keluar dari ruang kelas. Jadi sekarang sudah tidak was-was lagi melepas anak pergi sekolah, tetapi setiap kali mau berangkat, selalu saya ingatkan banyak hal ke anak,” jelasnya.

Sementara itu, wali murid lainnya, Ika mengaku senang sudah banyak sekolah yang diizinkan melakukan PTM, termasuk sekolah anaknya. Sebab, selama ini pembelajaran daring dirasa kurang bisa maksimal diterima anak.

“Kalau saya sudah lama menunggu kapan anak-anak bisa sekolah lagi, karena sudah satu tahun lebih di rumah terus. Pembelajaran tidak maksimal, anak juga seringkali tidak tertib mengikuti pembelajaran daring, sementara orang tua harus bekerja, tidak bisa full mengawasi dan mendampingi anak belajar, jadi lebih baik PTM di sekolah,” ucapnya.

DaringJatengkelasmuridPembelajaranPTMSekolahsiswa
Comments (0)
Add Comment