Sejumlah Petani Sawit di Lamsel Beralih Tanam Jagung dan Kelapa

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petani di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, memilih merombak tanaman sawit dan menggantinya dengan tanaman jagung dan kelapa.

Nurdin, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, menyebut tanaman sawit miliknya hanya produktif hingga usia belasan tahun. Jenis tanah padas berimbas produksi tandan segar buah sawit sangat minim.

“Perombakan menjadi solusi bagi petani, dan menggantinya dengan komoditas kelapa hibrida, genjah dan wulung. Masa penanaman berbagai kultivar kelapa jenis genjah minimal tiga tahun bisa berbuah. Selama masa penanaman kelapa itu, juga masih bisa menanam jagung di lahan yang sama,” terang Nurdin, saat ditemui Cendana News, Senin (19/4/2021).

Nurdin, petani sawit di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan memanen tandan segar buah sawit dari tanaman yang tetap dipertahankan, Senin (19/4/2021). -Foto: Henk Widi

Namun, Nurdin masih mempertahankan puluhan tanaman sawit yang masih produktif. Hasilnya, ia bisa memanen puluhan tandan buah segar (TBS) sawit seberat ratusan kilogram. Per kilogram TBS sawit dijual seharga Rp1.000 hingga Rp1.200. Rencananya, ia akan merombak semua tanaman sawit miliknya yang tidak produktif dan menggantinya dengan kelapa.

“Permintaan sawit selama Ramadan dan lebaran meningkat. Namun, petani lebih tertarik menjual kelapa muda yang nilai ekonomisnya lebih tinggi serta proses pemanenan lebih mudah, di sela-sela lahan pertanian sawit juga masih bisa ditanami pisang dan jagung,” terang Nurdin.

Nurdin menjelaskan, perombakan sawit dilakukan dua tahap, dengan membersihkan pelepah dan pembakaran batang. Setelah semua tanaman bersih, lahan bisa digunakan untuk penanaman kelapa dengan jarak 3 meter. Lahan yang telah dibersihkan juga bisa digunakan untuk menanam jagung dengan sistem tajuk.

Perombakan tanaman sawit juga dilakukan Ahmat, petani di desa yang sama. Tren permintaan kelapa muda selama bulan Ramadan dan hari biasa menjadikan tanaman kelapa lebih menjanjikan. Kultivar kelapa hijau, kelapa wulung atau cungap merah dan kelapa hijau banyak diminati. Sedangkan harga kelapa per butir mencapai Rp3.000 hingga Rp5.000 pada level petani.

“Distribusi kelapa muda lebih mudah dibandingkan sawit karena kami bisa langsung memasok ke penjual pengecer,” terang Ahmat.

Keputusan merombak tanaman sawit, sebut Ahmat, dilakukan bertahap. Masuk bulan Ramadan, ia mengaku sudah bisa memenuhi permintaan pedagang pengecer kelapa muda. Menjual sebanyak ratusan butir, ia bisa mendapat jutaan rupiah. Hasil tersebut lebih banyak dibandingkan dengan menjual sawit. Selain mendapat hasil panen kelapa, ia masih bisa mendapat lima ton jagung pada lahan seluas satu hektare.

Tanaman jagung bisa ditanam dua kali dalam setahun tergantung cuaca. Menanam jagung usia empat bulan tetap bisa dilakukan di sela-sela tanaman kelapa. Varietas jagung hibrida dengan usia tiga hingga empat bulan menjadi sumber pendapatan bagi petani. Tanaman jagung usia satu bulan diprediksi akan panen bulan Juli mendatang.

“Dibanding dengan lahan yang ditanami sawit, saya masih bisa mendapat hasil lebih banyak dengan menanam kelapa dan jagung,”ulasnya.

Solikin, pengepul TBS sawit mengaku hasil panen petani berkurang sejak lima tahun silam. Berkurangnya petani menanam sawit membuat ia harus mengumpulkan dari sejumlah kecamatan. Sekali pengiriman ke pabrik hasil panen dari petani mencapai 8 ton. Jumlah tersebut yang sebelumnya bisa diprroleh dari satu kecamatan harus diperoleh dari dua kecamatan.

Pembelian TBS dari petani sebut Solikin dihargai Rp1.200 per kilogram. Jumlah petani yang menanam sawit berkurang menjadi penyebab sulitnya mencari bahan baku minyak tersebut. Beberapa petani yang masih mempertahankan tanaman sawit dominan tanaman yang masih muda. Sebab, tanaman yang telah tua dan tidak produktif banyak dirombak petani dengan tanaman lain. (Ant)

JagungKelapaLampungLamselpetanisawit
Comments (0)
Add Comment