Usaha Musiman Saat Ramadan, Dongkrak Omzet Usaha Penggilingan Ikan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Bulan Ramadan menjadi peluang bisnis makanan olahan bagi warga di Bandar Lampung. Makanan berbahan ikan pun banyak dibuat oleh warga untuk dijual saat menjelang buka puasa. Kondisi demikian, berimbas pada meningkatnya omzet usaha penggilingan ikan.

Nursanto, pemilik penggilingan ikan di pasar Gudang Lelang, Telukbetung, mengaku menerima lebih banyak pesanan untuk berbagai kuliner berbahan ikan.

Usaha pembuatan kue basah milik Nursanti di pasar Gudang Lelang, Telukbetung, Bandarlampung, Selasa (20/4/2021). -Foto: Henk Widi

Selama Ramadan, Nursanto bilang muncul kreativitas warga untuk usaha kuliner. Imbas positif bagi usaha penggilingan ikan permintaan naik hingga puluhan kilogram. Pada kondisi normal, permintaan ikan giling maksimal 30 kilogram per hari. Sepekan Ramadan, ia mampu menjual hingga 100 kilogram ikan giling. Jenis ikan baji baji, kurisi, tenggiri dan kuniran paling banyak digunakan.

Peningkatan permintaan ikan giling, imbas kreativitas warga. Mengolah ikan laut menjadi beragam produk kuliner muncul kala Ramadan. Olahan yang kerap dibuat berupa otak otak bakar, bakso tusuk, tekwan, bakso bakar hingga pempek. Permintaan bahan pengolah ikan berupa arang, anglo pembakaran, tusuk sate hingga pemanggang ikan meningkat.

“Sebagian pelanggan merupakan konsumen rumah tangga dan pemilik usaha kuliner musiman yang akan menjual menu berbuka puasa atau takjil, dengan bahan baku membeli dari warung saya, lancarnya bahan baku melahirkan kreativitas bagi pelaku usaha lainnya,” terang Nursanto, saat ditemui Cendana News, Selasa (20/4/2021).

Nursanto bilang, saat bulan Ramadan peningkatan permintaan paling dominan berupa anglo. Anglo tempat pembakaran kerap digunakan untuk mengolah pepes ikan dan otak-otak bakar. Sebagai bahan modal untuk usaha, ia menjual anglo dengan harga mulai Rp40.000 hingga Rp50.000. Peningkatan itu membuat omzet harian semula Rp500.000 per hari menjadi Rp1juta per hari.

Hamsaroh, salah satunya, pedagang di pasar Gudang Lelang menambah produksi otak otak. Selain otak otak ia membuat bakso ikan, pepes ikan, kerupuk ikan dan siomay. Semua kuliner berbahan ikan giling itu bisa dibeli dalam kondisi siap santap. Sebagian disediakan olehnya untuk diolah lebih lanjut oleh konsumen di rumah.

“Otak otak yang saya kemas bisa dibakar, dikukus menjelang berbuka puasa sebagai camilan,” terangnya.

Berbagai jenis kuliner yang dijual mulai Rp1.000, memberinya omzet ratusan ribu rupiah per hari. Peningkatan permintaan terjadi karena sebagian pelanggan berasal dari wilayah Telukbetung dan wilayah lain. Pelanggan kerap datang ke pasar gudang lelang membeli ikan segar dan olahan berbahan ikan.

Nursanti dan Valentina, pedagang kue basah di pasar Gudang Lelang, juga mengaku berkreasi saat Ramadan. Sebagai pedagang kue basah, ia membaca peluang jenis permintaan kue yang diminati masyarakat. Kue yang lembut, manis dan mengenyangkan banyak diminati oleh pelanggan. Sejumlah kuliner yang muncul hanya saat Ramadan banyak diproduksi.

“Ada lemang, buras hingga kolak dan berbagai minuman yang saya jual untuk warga yang tidak berpuasa dan berpuasa,” cetusnya.

Bulan puasa, sebut pedagang kue basah dan lauk tersebut, mendorong waktu penjualan bertambah. Semula ia hanya berjualan sejak pagi hingga siang. Namun selama bulan Ramadan, ia menambah waktu berjualan hingga sore. Mengajak serta sang anak, dilakukan untuk melayani kebutuhan warga yang menjalankan ibadah puasa. Hasilnya, ia bisa mendapat omzet ratusan ribu rupiah per hari.

BandarBisnisLampungmakananramadan
Comments (0)
Add Comment