Banyumas Kembali Batasi Kegiatan Ekonomi dan Masyarakat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Meningkatnya kasus positif Covid-19 yang disertai pula dengan peningkatan angka kematian, membuat Kabupaten Banyumas kembali melakukan pembatasan kegiatan ekonomi serta pembatasan kegiatan masyarakat.

Bupati Banyumas, Achmad Husein, Jumat (18/6/2021) malam mengeluarkan Surat Edaran (SE) Bupati nomor 360/3170 tentang pembatasan kegiatan masyarakat di bidang keagamaan, sosial, budaya dan fasilitas umum. Di antaranya, resepsi pernikahan kembali dilarang dan pasar tiban serta pusat keramaian publik seperti alun-alun dan GOR ditutup.

“Semua ini demi menjaga supaya penyebaran Covid-19 tidak kembali meluas, berbagai kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan lainnya kembali kita atur dan dibatasi,” katanya.

Untuk kegiatan keagamaan misalnya, aturan shalat berjamaah, tahlilan, pengajian, kajian keagamaan hingga acara kebaktian di gereja kembali dibatasi maksimal hanya dihadiri 50 persen dari kapasitas ruangan. Sementara untuk pernikahan, harus dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) dan kantor catatan sipil. Untuk menghadiri acara pernikahan juga dibatasi maksimal 10 orang.

“Jadi untuk hajatan atau resepsi di rumah, termasuk menggelar ijab kobul di rumah juga tidak diperbolehkan, karena berpotensi untuk dihadiri lebih dari 10 orang. Semua proses pernikahan harus dilaksanakan di kantor KUA dan kantor catatan sipil,” tegasnya.

Sedangkan untuk kegiatan kesenian, sosial, budaya serta seminar, lokakarya dan sejenisnya, diperbolehkan dengan pola hybrid atau perpaduan luring, dimana untuk yang hadir hanya dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas ruangan.

Pembatasan ekstrim diterapkan untuk ruang terbuka atau ruang publik. Alun-alun dan kawasan GOR Satria Purwokerto ditutup total. Sedangkan untuk pasar tiban yang biasanya digelar pada Sabtu dan Minggu juga ditiadakan.

“Untuk pusat perbelanjaan, jam buka kembali dibatasi hanya sampai dengan pukul 21.00 WIB dan untuk pasar tradisional dibatasi hingga pukul 14.00 WIB. Namun, dalam satu minggu minimal sehari harus ditutup untuk dilakukan penyemprotan disinfektan,” kata Husein.

Larangan untuk menggelar resepsi pernikahan, sedikit mendapat protes dari kalangan pengusaha katering serta persewaan tenda dan lainnya yang biasa digunakan untuk resepsi pernikahan. Eko pengusaha katering mengatakan, sebelumnya sudah cukup lama larangan menggelar resepsi diberlakukan, hingga ia tidak mendapatkan order sama sekali selama berbulan-bulan. Jika sekarang kembali diberlakukan, maka akan sangat berdampak pada ekonomi keluarganya.

“Setelah resepsi diperbolehkan dengan berbagai macam aturan pembatasan, kita masih sepi order, karena jumlah undangan sangat terbatas. Sehingga jika resepsi kembali dilarang, tentu usaha kami akan mati,” keluhnya.

BanyumasCOVID-19Jateng
Comments (0)
Add Comment