Sistem Sortir, Jaga Kualitas Hasil Panen Kopi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Memasuki bulan Juni sebagian petani kopi di Lampung Barat memasuki masa panen.

Susanto, petani di Pekon Campang, Kecamatan Kebun Tebu menyebut pemanenan dilakukan bertahap dengan sistem sortir. Petani di wilayah Lampung Barat sebutnya dominan membudidayakan kopi jenis robusta sebagian arabica. Proses pemanenan sistem sortir hasilkan kopi petik merah.

Proses panen sistem sortir sebut Susanto dilakukan dengan tahap pemanenan dua kali. Saat proses panen tahap pertama ia melakukan pemilihan biji kopi dengan kulit berwarna merah.

Satu kali proses panen petik merah dengan lahan seluas satu hektare ia bisa mendapat sekitar 4 ton. Rata-rata satu pohon sebutnya bisa mendapat hasil 15 kilogram dengan jumlah pohon mencapai 1500 batang.

Melalui sistem panen sortir petik merah ia bisa menghasilkan sekitar 3,5 ton biji kering. Sisanya dipanen dengan sistem total saat kulit kopi mulai berwarna hijau tua dan kuning.

Pemanenan total kerap dilakukan untuk mencegah kerontokan dan hama tupai. Hasil biji kering (green bean) selanjutnya dijual pada pengepul kopi. Pada level petani kopi dijual seharga Rp20.000 per kilogram.

“Harga kopi robusta hasil panen petani mulai meningkat karena sebelumnya pernah mencapi level Rp16.000 hingga Rp19.000 per kilogram, saat ini harga mencapai Rp20.000 karena kualitas yang dihasilkan juga cukup baik dengan proses pemanenan sistem petik merah, dan proses pengeringan yang baik,” terang Susanto saat ditemui Cendana News, Senin (21/6/2021).

Panen raya kopi di lahan petani Lampung Barat sebut Susanto masih akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Proses panen yang dilakukan manual dengan tangan membuat serapan tenaga kerja petik kopi meningkat.

Satu kali proses panen ia menyebut membutuhkan sekitar 10 hingga 15 pekerja. Upah pemanenan berkisar Rp3.000 hingga Rp10.000 menyesuaikan jumlah tenaga kerja.

Petani kopi robusta di Pekon Campang, Hendrawan, menyebut memilih melakukan pemanenan sistem asalan. Sistem asalan dilakukan tanpa melakukan penyortiran untuk penghematan tenaga kerja.

Proses pengeringan kopi oleh Hendrawan di Pekon Campang, Kecamatan Kebun Tebu, Lampung Barat, Senin (21/6/2021) – Foto: Henk Widi

Hasilnya ia mendapatkan sekitar dua ton untuk lahan seluas setengah hektare. Proses pemilihan biji kopi dilakukan saat pengeringan. Kualitas hasil panen sebutnya mempengaruhi harga jual.

“Kadar air tinggi dan kopi yang dipanen belum berkulit merah bisa menurunkan harga kopi hingga Rp16.000 per kilogram,” ulasnya.

Produksi kopi sebut Hendrawan bisa meningkat dengan sistem sambung pucuk (grafting). Sistem sambung pucuk sebutnya bertujuan untuk memperbanyak ranting. Stek diperoleh dari batang atas atau entres tanaman kopi robusta penghasil buah melimpah.

Sambung pucuk sebutnya berpotensi meningkatkan produksi buah dan mengurangi ketinggian pohon. Pohon yang disambung akan lebih rendah memudahkan pemanenan.

Petani lain bernama Muhamad Iqbal di Kelurahan Sekincau, Kecamatan Sekincau menyebut panen sortir menjaga kualitas kopi.

Penanganan pasca panen sebutnya terletak pada proses fermentasi ringan (proses basah/washed process). Fermentasi medium (semi washed) dan fermentasi tinggi (dry process). Proses penanganan pasca panen akan menghasilkan kualitas kopi berbeda.

Kopi asal Lampung Barat sebutnya kerap dijual dalam bentuk biji kering. Sebagian petani memanfaatkan hasil panen untuk pembuatan kopi bubuk.

Hasil panen yang dijual dalam bentuk kopi bubuk sebutnya jadi salah satu produk pertanian bernilai jual tinggi.

Selain memberi hasil bagi petani, masa panen kopi memberi sumber penghasilan bagi pembuat kopi bubuk, penjual kopi bubuk.

KopilahanLampungpanenpohonrantingStek
Comments (0)
Add Comment