Syal Batik Sampan Jadi Cenderamata di Pariaman

PARIAMAN – Batik sampan yang diproduksi perajin di daerah itu menjadi cenderamata baru di Kota Pariaman, Sumatra Barat, dengan harga terjangkau, yaitu sekitar Rp100 ribu per helai.

“Syal itu dibuat sejak batik sampan dikembangkan kembali di Kota Pariaman pada 2019,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pariaman, Gusniyetti Zaunit di Pariaman, Minggu (20/6/2021).

Ia mengatakan, banyak motif syal yang diproduksi di Pariaman, namun tetap membawa motif tabuik yang menjadi ikon daerah itu, sehingga berpotensi menjadikannya cenderamata dengan harga terjangkau.

Ia menyampaikan, saat ini untuk mendapatkan syal tersebut harus mendatangi rumah produksi di Desa Sungai Kasai, Kecamatan Pariaman Selatan, namun pihaknya berharap perajin menjual produknya di gedung promosi di samping gedung Dekranasda Kota Pariaman.

Lokasi gedung tersebut dekat dengan muara Sungai Batang Piaman atau masih berada di kawasan objek wisata Pantai Gandoriah, sehingga wisatawan dapat dengan mudah membelinya.

“Perajin juga menjual produknya melalui online (dalam jaringan atau daring),” katanya.

Saat ini, syal tersebut menjadi cenderamata untuk tamu Pemerintahan Kota Pariaman yang diberikan ketika berkunjung ke daerah itu, sebagai media untuk mempromosikannya kepada masyarakat luas.

Ia menyebutkan, adapun menteri yang pernah ke Pariaman dan mendapatkan syal tersebut, yaitu Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Ia menyampaikan, selain memproduksi syal dan kain batik, perajin di Pariaman juga membuat sajadah dan masker dari batik dengan motif khas daerah itu, yang dijual melalui daring.

Pembeli produk perajin tersebut, tidak saja dari Pemerintah Kota Pariaman, namun juga kejaksaan dan BUMD yang ada di daerah itu dan juga pihak swasta dan perantau.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Pariaman, Sumatra Barat menyiapkan dua kelompok perajin batik sampan untuk mengangkat kembali warisan budaya nusantara itu di daerah tersebut.

“Kelompok tersebut, yaitu di Dusun Sampan dan Desa Kasai yang masing-masingnya terdiri 10 anggota,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Pariaman, Gusniyeti Zaunit, di saat jumpa pers di Pariaman.

Ia mengatakan, masing-masing kelompok tersebut mengembangkan jenis pewarna yang berbeda, yaitu kelompok Dusun Sampan menggunakan pewarna kimia.

Sedangkan kelompok Desa Kasai menggunakan bahan pewarna alam di antaranya gambir, pinang, dan sabut kelapa. (Ant)

BatikpariamanSumbarSyal
Comments (0)
Add Comment