Angin Kencang Hambat Aktivitas Nelayan di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Angin kencang yang melanda Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur,  membuat aktivitas melaut berkurang dan berdampak terhadap produksi ikan dan harga jual ikan di pasar lokal.

“Sebulan terakhir terjadi angin kencang, sehingga aktivitas perikanan berkurang,” kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Senin (26/7/2021).

Paul, sapaannya, menjelaskan kegiatan perikanan masih berjalan normal dan semua nelayan tetap beraktivitas. Meskipun terjadi angin kencang, tetapi kapal berukuran 20 Gross Ton tetap melaut.

Dia menyebutkan, kapal ikan lampara, bagan serta pole and line atau Huhate tetap melaut di malam hari, saat angin tidak terlalu kencang yang bisa mengakibatkan terjadinya gelombang tinggi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, NTT, Paulus Hilarius Bangkur, saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Senin (26/7/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Hampir dua bulan terakhir harga ikan agak naik, karena produksi ikan terbatas. Kita berharap, dalam situasi pandemi Covid-19 aktivitas perikanan tidak boleh berhenti, karena untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat,” ucapnya.

Paul menambahkan, pelayanan kepada nelayan terkait kebutuhan solar juga tetap berjalan sebagaimana mestinya, tetapi pihaknya tetap mengatur administrasi pelayanan.

Dijelaskannya, nelayan mengajukan permohonan setelah fotokopi persyaratan, lalu mengisi kupon kebutuhan solar per tiga hari. Setelah semua administrasi tersedia, DKP Sikka mengeluarkan rekomendasi untuk membeli kebutuhan bahan bakar di tiga Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN), yakni di Wuring, Bebeng dan TPI Alok.

“Pelayanan di SPDN tetap mematuhi protokol kesehatan, baik nelayan maupun petugas yang melayani. Aktivitas perikanan harus tetap berjalan, meskipun pandemi Covid-19 melanda,” tuturnya.

Hamid, nelayan yang ditemui di TPI Alok Maumere, mengakui kapal lampara yang dinakhodainya tetap melaut saat malam hari, guna menangkap ikan selar, layang, bahkan ikan cucut yang sedang musim.

Dirinya mengatakan, saat angin agak kencang dan gelombang sangat tinggi di atas dua meter, kapalnya terpaksa tidak melaut sambil menunggu tinggi gelombang laut di bawah satu meter.

“Situasi sekarang memang sulit karena sedang pandemi Covid-19. Sejak awal 2021, situasi sudah mulai agak normal karena masyarakat sudah mulai banyak yang membeli ikan,” ungkapnya.

Hamid mengatakan, harga jual ikan pun sudah mulai meningkat dan mendekati harga jual sebelum pandemi Covid-19.

AnginkapalnelayanNTTSikka
Comments (0)
Add Comment