Bijak Konsumsi Antibiotik Agar Tak Alami Resistensi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Antibiotik bukanlah obat bebas. Manfaat obat hanya ampuh melawan bakteri apabila digunakan dengan cara yang tepat. Penggunaan tanpa pengawasan pihak yang kompeten atau dokter dapat menyebabkan resistensi.

Supervisor Departemen Farmasi RS Premier Bintaro, Apt. Reny Astuty Sumarsono, S.Si, dalam salah satu acara online, Kamis (17/6/2021) – Foto Ranny Supusepa

Supervisor Departemen Farmasi RS Premier Bintaro, Apt. Reny Astuty Sumarsono, S.Si, menyatakan, antibiotik harus memiliki kadar stabil dalam darah, karena itu harus diminum tepat waktu.

“Kenapa harus kadarnya stabil dalam darah? Karena jika di bawah kadar maka tidak akan efektif membunuh kuman. Malah menyebabkan kuman menjadi resistensi dan membahayakan tubuh,” kata Reny saat dihubungi, Jumat (23/7/2021).

Untuk memastikan aman bagi tubuh kita, ia menyebutkan ada beberapa langkah yang harus dilakukan.

“Pertama, pada saat penyiapan. Sering kali ada antibiotik kering yang diresepkan pada pasien. Itu harus dipastikan air yang digunakan untuk mencampurnya sesuai dengan penjelasan apoteker. Biasanya, apoteker akan memberikan garis pada sisi luar obat agar pasien atau keluarganya bisa mencampur dengan pas saat dirumah,” ucapnya.

Biasanya, apoteker juga akan memberitahu cara untuk mengocoknya, sehingga larutannya akan menjadi homogen.

“Kedua, takaran minum, waktu meminumnya dan tempat penyimpanan juga menjadi bagian penting dalam proses mengkonsumsi. Jika memang dinyatakan harus tujuh hari, ya tujuh hari. Jangan dilebihkan atau dikurangi,” ucapnya lagi.

Beberapa jenis antibiotik, lanjutnya, perlu diminum dalam kondisi perut belum terisi makanan, tapi ada juga jenis obat yang dikonsumsi selang beberapa jam setelah makan. Dokter biasanya juga merekomendasikan pantangan minuman atau makanan selama minum obat tertentu.

“Obat antibiotik terkadang memicu efek samping dan alergi bagi sebagian orang. Segera beri tahu dokter dan apoteker apabila mengalami kondisi ini,” ucapnya tegas.

Untuk antibiotik yang berbentuk kapsul atau tablet, pastikan obat belum melewati masa kadaluarsa, yang dapat dicek pasien di kemasan. Dan pastikan juga untuk memerhatikan kondisi fisik obat.

“Yang harus dipahami adalah penggunaan haruslah di bawah pengawasan dokter. Karena tak semua penyakit membutuhkan antibiotik. Kalau hanya flu atau pusing, jangan berinisiatif untuk meminumnya sendiri di rumah,” kata Reny tegas.

Ia menegaskan, menghabiskan antibiotik sesuai dengan resep yang dibuat merupakan hal penting yang harus dipahami oleh pasien.

“Tak jarang karena gejala sakit mereda, akhirnya pasien tak menghabiskan antibiotiknya. Padahal, jika pengobatan berhenti di tengah jalan, infeksi dapat kambuh. Selain itu, jika tidak dihabiskan, bisa meningkatkan risiko bakteri kebal terhadap pengobatan di masa mendatang. Akibatnya, bakteri bisa terus hidup dan berkembang biak di dalam tubuh dengan membawa kekebalan dari obat. Kondisi ini dikenal dengan resistensi antibiotik,” pungkasnya.

AntibiotikDKIResistensi
Comments (0)
Add Comment