‘Gadget’ Bisa Timbulkan Gangguan Wicara pada Balita

Editor: Koko Triarko

BANJARNEGARA – Kesibukan orang tua seringkali membuatnya menempuh jalan mudah dengan memberikan gadget pada anaknya yang masih balita, supaya tenang. Namun jika terlalu sering dan berdurasi lama, gadget ternyata bisa menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak.

Dokter spesialis rehab medik Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara, dr. Tegar Harputra Raya, SpKFR., mengatakan gadget memberikan stimulasi yang berlebihan pada anak. Stimulasi adalah hal-hal yang menimbulkan atau merangsang kemampuan dasar anak. Namun karena over stimulasi, di mana otak terlalu banyak menerima rangsangan, maka anak menjadi bingung dalam mencernanya.

“Bermain gadget terlalu lama membuat anak menerima banyak stimulasi, sampai ia bingung mencerna stimulasi tersebut dan dampaknya anak pada akhirnya mengalami gangguan bicara,” terangnya, Jumat (30/7/2021).

Lebih lanjut dr. Tegar menjelaskan, saat ini gadget sudah menjadi bagian hidup yang tak pernah lepas dari manusia, orang tua diharapkan lebih waspada dan membatasi pemberian gadget pada anak, terutama yang masih usia balita.

Menurutnya, saat usia balita yang paling tepat adalah adanya pendampingan dari orang tua ataupun anggota keluarga lainnya. Sehingga terjalin komunikasi, baik melalui obrolan, pembacaan dongeng atau cerita anak dan kegiatan lain yang menumbuhkan interaksi antara anak dengan orang tua.

“Batas waktu maksimal bagi anak untuk memegang gadget adalah 20 menit, begitu pula dengan televisi, batasi jam menonton televisi, karena televisi juga hampir serupa dengan gadget dampaknya. Informasi satu arah dan dalam jumlah banyak yang masuk ke anak,” jelasnya.

Bagi anak yang sudah terlanjur mengalami gangguan wicara, dr. Tegar menyarankan supaya anak diberikan terapi wicara di tempat biro psikologis ataupun tempat terapi wicara lain. Terapis akan memberikan terapi secara bertahap untuk merangsang anak bicara.

Terapi wicara biasanya menggunakan alat peraga, berbagai macam permainan sederhana yang menstimulasi konsentrasi anak, serta dialog-dialog sederhana.

Namun, lanjutnya, terapi wicara tersebut butuh waktu yang cukup lama. Tidak hanya hitungan bulan, tetapi bisa sampai beberapa tahun dan selama masa itu, anak harus rutin menjalani terapi wicara. Melihat dampak gadget yang cukup fatal, maka lebih baik dilakukan pencegahan dengan membatasi interaksi anak dengan gadget.

“Selama usia balita, peran orang tua yang membatasi, mengontrol dan lebih memperbanyak interaksi dengan anak sangat penting,” pesannya.

Sementara itu, salah satu psikolog dari tempat terapi, Kety Murtini, mengatakan sebagian besar anak yang mengalami gangguan bicara karena minimnya interaksi. Anak cenderung dibiarkan asyik sendiri, baik dengan bermain gadget ataupun menonton televisi.

“Hal ini banyak dialami anak yang kemudian mengalami gangguan tumbuh kembang serta autis,” katanya.

BalitabanjarnegaraGadgetJatengRSIWicara
Comments (0)
Add Comment