Ini Syarat Pengajuan Plasma Konvalesen dan Biaya Pengolahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang memastikan permintaan plasma konvalesen bagi pasien covid-19, harus disertai surat pengantar dari rumah sakit. Termasuk adanya contoh darah pasien, untuk dicocokkan dengan stok plasma yang ada.

“Tidak bisa kalau mengajukan sendiri ke PMI, tanpa ada surat pengantar dari rumah sakit, tidak akan dilayani termasuk di PMI Kota Semarang. Tercatat dalam setahun terakhir dari bulan Juni 2020 hingga Juni 2021, kita sudah melayani sebanyak 3.650 kantong plasma konvalesen,” papar Ketua PMI Kota Semarang, Dr. Shofa Chasani, dalam webinar ‘Mencegah Praktik Calo Plasma Konvalesen’, yang digelar secara daring di Semarang, Jumat (30/7/2021).

Dipaparkan, saat ini antrean permintaan plasma konvalesen sudah menurun, meski masih tinggi.

“Belum semua permintaan dapat dilayani, karena keterbatasan stok. Pasien bisa menunggu 1-2 hari, namun jika stok kosong, harus menyediakan donor pengganti,” terangnya.

Namun tidak semua pendonor bisa diterima. Ada proses skrining terlebih dulu, termasuk pemeriksaan antibodi yang dimiliki pendonor, sehingga sering kali yang diterima atau lolos skrining hanya seperlima dari jumlah pendonor.

“Setiap hari rata-rata jumlah pendonor plasma di PMI Kota Semarang, sekitar 60 -100 orang namun yang lolos hanya sepertiga bahkan seperlima. Itu sebabnya, stok tidak banyak, apalagi permintaan tinggi sehingga sering kali kosong,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan anggota kehormatan PMI Jateng, sekaligus pakar biologi molekuler Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata Semarang, Dr. Sugeng Ibrahim M. Biomed.

“Terdapat formulir permintaan darah dan contoh darah pasien dari rumah sakit ke Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Semarang. Apabila ada stok, maka permintaan dapat langsung dipenuhi, namun jika tidak ada, maka keluarga pasien akan diminta membawa donor darah pengganti (DDP), yakni orang yang akan mendonorkan plasma konvalesen,” terangnya.

Dijelaskan, permintaan tersebut dikenai biaya pengganti pengolahan darah (BPPD) plasma konvalesen sebesar Rp 2,25 juta per kantong. Hal ini sesuai dengan surat keputusan pengurus PMI Pusat Nomor 023/KEP/PP PMI/III/2021 tentang penetapan biaya pengganti penyediaan plasma konvalesen UDD PMI, tertanggal 31 Maret 2021.

“Jadi begitu rumah sakit membutuhkan plasma, akan mengirimkan surat ke PMI, sehingga tidak bisa orang per orang. Kita ingin mensosialisasikan ini, sehingga jaminan atas sistem ini benar-benar dijaga oleh PMI,” tandasnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Mochamad Abdul Hakam mengatakan, kendati belum ada uji klinis yang menyatakan mengenai terapi plasma konvalesen ini, namun permintaan donor plasma konvalesen terus meningkat.

Kepala DKK Semarang Abdul Hakam, dalam paparan di webinar ‘Mencegah Praktik Calo Plasma Konvalesen’, yang digelar secara daring di Semarang, Jumat (30/7/2021). Foto: Arixc Ardana

“Ini menjadi alternatif terapi, meski demikian kita tetap mengajak penyintas covid-19 untuk mau mendonorkan plasmanya bagi pasien. Edukasi dan sosialisasi terus dilakukan agar mereka mau mendonorkan plasmanya,” terangnya.

Di sisi lain, dirinya menjelaskan praktik percaloan donor plasma konvalesen terjadi akibat tingginya permintaan sementara stok plasma masih sedikit. Oleh sebab itu, untuk menghindari praktik ini, stok plasma harus lebih banyak daripada permintaan.

”Kami akan terus menggandeng dan berkoordinasi dengan relawan. Merekalah yang membantu dalam pendataan siapa saja penyintas yang potensial mendonorkan plasmanya. Selain itu, berbagai kemudahan akan dilakukan. Seperti proses screening nantinya bisa dilaksanakan di Puskesmas terdekat. Lalu, kegiatan donor baru dilakukan di PMI,” pungkasnya.

DonorJatengkonvalesenpasienPlasmaterapi
Comments (0)
Add Comment