Koro Benguk, Mudah Dibudidayakan dan Potensial Jadi Sumber Pangan Alternatif

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Budidaya tanaman merambat koro atau kara benguk masih dilakukan sebagian warga Lampung Selatan. Selain mudah dibudidayakan, tanaman tersebut juga potensial sebagai sumber pangan alternatif.

Tuti, warga Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan mengatakan, ia menanam dengan biji dan sistem tumpangsari serta memanfaatkan tanaman perdu jenis bakau, akasia untuk pohon rambatan.

Tuti bilang sebagai tanaman menahun, koro benguk sangat toleran dalam kondisi tanah, cuaca. Meski tanah kurang subur, tanaman yang memiliki sekitar puluhan rumpun tetap produktif. Buah koro benguk muda bisa diolah menjadi sayur tumis, lodeh. Biji koro benguk tua bisa menjadi bahan pembuatan tempe pengganti kedelai.

“Bagi sebagian orang, koro benguk dihindari karena dikenal mengandung unsur racun, tapi proses pengolahan yang benar melalui perendaman, perebusan, pengukusan, atau fermentasi, aman untuk konsumsi sebagai cadangan ketika terjadi kesulitan pangan,” terang Tuti saat ditemui Cendana News, Senin (26/7/2021).

Pada proses penanaman memakai ajir, Tuti menyebut memanfaatkan kayu dan bambu. Koro benguk ditanam seperti proses penanaman kacang panjang, buncis. Pembuatan ajir dengan bambu, kayu akan mempermudah proses pemanenan.

“Tanaman koro benguk bisa merambat hingga lima meter pada tanaman pegantungan atau api api, panen dilakukan dengan sengget,” ulasnya.

Pemanfaatan benguk untuk dijual sebut Tuti banyak dalam bentul olahan tempe. Setelah kacang benguk direndam, direbus, difermentasi dengan jamur kapang. Memanfaatkan bungkus daun jati, daun pisang tempe koro benguk dijual bersama hasil pertanian lain.

Sebagai komoditi pertanian bahan pangan, Tuti bilang kacang benguk memiliki daya simpan lama. Memakai wadah toples yang kedap udara polong atau biji koro benguk bisa disimpan hingga satu tahun.

Berpotensi sebagai cadangan benih, koro benguk bisa kembali ditanam untuk regenerasi tanaman. Pemanenan bertahap pada tanaman benguk maksimal bisa mencapai usia 300 hari.

Tanaman kering hingga pohon kelapa jadi salah satu rambatan bagi tanaman kara benguk milik Tuti di Desa Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (26/7/2021). Foto: Henk Widi

Petani lain yang menanam koro benguk, Wahyudi di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang bilang benguk jadi tanaman sela. Koro benguk sebutnya menjadi tanaman tepi sungai yang menjalar. Digunakan sebagai pencegah pertumbuhan gulma rumput, perakaran kuat koro benguk menjadi penguat tanggul sungai.

“Sajian tempe benguk mulai jarang ditemui, saya buat saat hari raya Idul Fitri, Idul Adha dan acara keluarga,” ulasnya.

Olahan hasil pertanian tempe koro benguk dinikmati oleh Listiana. Ia menyebut dengan proses pengolahan yang benar, rasa gurih dan lezat tempe benguk tidak kalah dengan tempe kedelai. Saat bahan baku kedelai sulit diperoleh makanan dari produk pertanian koro benguk sebutnya bisa jadi alternatif pangan.

Koro BengukLampunglampung selatan
Comments (0)
Add Comment