Kue Serabi Tradisional Purwokerto, Manis dan Gurih

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Serabi merupakan salah satu makanan yang banyak diburu masyarakat Kota Purwokerto di pagi hari. Jajanan tradisional berbentuk bulat dan hangat, dengan perpaduan rasa manis dan gurih ini sangat cocok sebagai teman minum teh atau kopi di pagi hari, terlebih saat akhir pekan.

Cukup dengan makan 2-3 serabi, sudah membuat perut kenyang dan menjadi pengganti sarapan pagi. Harganya pun sangat terjangkau hanya Rp 2.500 per biji dan pembeli bisa memilih untuk dibuatkan serabi putih yang dipadukan dengan serabi manis gula jawa atau hanya salah satunya saja.

Serabi putih polos, hanya terbuat dari adonan tepung dan santan saja, sehingga rasanya hanya gurih. Sedangkan untuk adonan yang satunya, rasanya manis dan gurih karena diberi gula jawa.

Salah satu penjual serabi yang berada di Jalan HR Bunyamin, Purwokerto,Murtiningsih, setiap hari membuat adonan serabi antara 5-7 kilogram tepung beras. Setelah diolah dan dicampur dengan parutan kepala muda, adonan menjadi dua buah panci besar.

Penjual serabi di Jalan HR Bunyamin, Purwokerto, Murtiningsih, Sabtu (10/7/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

Satu panci berisi adonan serabi berwarna putih dan satu panci lainnya, adonan berwarna kecoklatan, karena ditambah dengan gula jawa untuk memberikan rasa manis.

Ada delapan tungku serabi berderet, dengan pemanas dari kayu bakar dicampur arang. Murtingsih menuang adonan berwarna putih satu sendok besar, kemudian ditambah satu sendok adonan coklat di atasnya. Lalu tungku langsung ditutup. Sekitar 5 menit, serabi sudah matang, tanpa perlu dibolak-balikan.

“Sekarang saya kurangi membuat adonannya, karena jalanan sepi, tidak banyak lagi orang yang bersepeda di pagi hari ataupun yang sengaja membeli serabi,” tuturnya, Sabtu (10/7/2021).

Sementara itu, salah satu warga Kota Purwokerto, Anjar mengatakan, sebenarnya membuat serabi cukup mudah. Bahan untuk membuat adonan serabi, hanya terdiri dari tepung beras dab parutan kelapa muda saja. Dan untuk rasa manisnya, adonan diberi gula jawa. Namun, untuk membuat sendiri di rumah, ia mengaku tidak punya tungku kecil-kecil.

“Pernah mencoba membuat serabi sendiri, menggunakan kompor gas, tetapi rasanya memang beda dengan serabi yang dimasak di atas tungku,” katanya.

Penjualan serabi juga bertebaran di tepi-tepi jalan, terlebih saat akhir pekan. Namun, saat ini kue yang terbuat dari adonan tepung dan santan tersebut penjualannya menurun akibat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Murtiningsih mengatakan, biasanya ia berjualan sejak pagi hari pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 08.00 WIB dagangannya sudah habis. Namun, ada penyekatan jalan selama 24 jam, sehingga dagangannya kurang laku.

“Biasanya pukul 06.00 WIB sudah banyak yang mengantre serabi, tetapi sekarang jalanan sepi, jadi sampai siang saya masih berjualan menunggu pembeli datang,” tuturnya.

banyunasJatengkulinerPPKM DaruratPurwokertoserabi
Comments (0)
Add Comment