Orangtua Siswa di Purwokerto Keluhkan Kuota Internet Belajar Daring

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Satu tahun lebih pembelajaran daring dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga Perguruan Tinggi (PT).

Emosi orangtua terkuras, dari yang awalnya protes, hingga menerima dan pada akhirnya kembali protes lagi karena rentan waktu yang cukup panjang.

Faktanya, pembelajaran daring tidak hanya menuntut orangtua untuk meluangkan waktu lebih banyak mendampingi anak, tetapi juga menuntut biaya yang lebih besar untuk pembelian kuota internet.

“Belajar daring itu jika dikalkulasi lebih mahal, untuk satu bulan anak saya beli kuota internet lebih dari Rp 100.000, karena anak-anak tentu tidak terkontrol pemakaiannya. Sebentar untuk belajar, untuk buka youtube, game online dan lainnya, hal tersebut tidak bisa dihindari, karena sekarang anak lebih familiar dan dekat dengan teknologi,” kata salah satu orangtua siswa di Purwokerto, Agus Wahyudi, Kamis (29/7/2021).

Biaya untuk membeli kuota internet tersebut jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya SPP untuk sekolah negeri. Sekarang SPP untuk sekolah negeri kisarannya hanya Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per bulan, bahkan banyak yang gratis.

Selain butuh biaya lebih mahal, orangtua juga harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mendampingi anak belajar, terutama anak yang masih usia SD dan SMP. Mereka seringkali mendapatkan tugas dari guru dan belum paham sepenuhnya, sehingga orangtua harus turun tangan.

“Orangtua tidak hanya harus keluar uang lebih banyak, tetapi juga waktu dan tenaga, ikut berfikir untuk memberikan penjelasan tentang materi pelajaran, saat anak kesulitan mengerjakan tugas dari guru,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan wali murid lainnya, Hutrianto. Menurutnya, subsidi kuota internet yang diberikan pihak sekolah sebesar Rp 50.000 per bulan, sangat tidak cukup. Ia harus selalu menambah pengeluaran untuk membelikan anaknya kuota internet tambahan.

“Anak sekarang, biasa pegang handphone, diberi kuota Rp 50.000, satu minggu sudah habis,” katanya.

Selain masalah kuota internet, Hutrianto juga mempertanyakan seputar kualitas pembelajaran. Ia mengatakan, hampir semua anak naik kelas ataupun lulus tahun ini, namun tidak diketahui kualitasnya seperti apa.

“Terus terang, banyak anak yang sebenarnya kurang menguasai materi pelajaran, tetapi tetap saja naik kelas atau lulus kemarin. Jika hal seperti ini terus berlanjut, lalu kualitas pendidikan anak-anak kita ke depannya akan seperti apa,” keluhnya.

Meskipun begitu, baik Agus Wahyudi maupun Hutrianto menyadari sepenuhnya, jika kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukan pembelajaran tatap muka (PTM) karena kasus Covid-19 yang masih tinggi. Hanya saja, mereka meminta ada solusi yang lebih untuk meningkatkan kualitas pendidikan daring.

Belajar DaringJatengKuota InternetPurwokerto
Comments (0)
Add Comment