Petani Bandar Lampung Berupaya Tetap Produktif di Tengah Lahan Terbatas

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Meski lahan terus terimpit oleh sejumlah perumahan, lahan yang bakal menjadi bangunan hingga tanah kavlingan, tidak mengurangi upaya sebagian petani di Bandar Lampung untuk tetap produktif. Mereka tetap bertahan meski tawaran pengembang sangat menggoda dan terus berdatangan.

Siti Romlah, setiap hari merawat lahan warisan keluarga di Kelurahan Way Kandis, Kecamatan Tanjung Senang, Bandar Lampung. Ia memilih tetap menjaga lahan pertanian tersebut bersama keluarga. Hamparan sayuran tampak menghijau dalam bedengan.

Jenis sayuran yang ditanam cukup beragam, meliputi pakcoy, sawi putih, sawi pahit, bayam, kangkung, selada dan sayuran lain. Pada tepian lahan terlihat tanaman pepaya, katuk, singkong hingga buah alpukat.

“Saya pernah mengalami sulitnya mendapatkan tanah dan merawat lahan di lereng perbukitan Wonosari, Yogyakarta. Saat mendapat tanah yang subur di sini tetap dipertahankan, meski sudah ditawar untuk dibeli,” terang Siti Romlah saat ditemui Cendana News, Senin (19/7/2021).

Siti Romlah menyebutkan, jika diperhitungkan lahannya bisa menjadi belasan kavling. Sesuai kalkulasi ia bisa membeli kavlingan baru. Seharga Rp85.000 permeter dari hasil menabung penjualan sayuran justru ia memperluas aset lahan ukuran 10×10 meter.

Profesi sebagai petani diakui Siti Romlah justru memberinya keuntungan ganda. Setiap pagi ia telah bergulat dengan tanah, mencabut rumput. Pupuk organik jadi pilihan baginya sesuai permintaan pelanggan sayuran.

“Sejumlah sayuran yang saya tanam pesanan dari pedagang mi ayam, burger, pecel lele meminta pupuk organik tanpa bahan kimia,”ulasnya.

Sayuran yang dipanen dijual mulai Rp1.000 hingga Rp3.000 per ikat. Pesanan rutin setiap dua hari berasal dari pedagang di pasar Way Kandis, pasar Jati Mulyo hingga sejumlah pasar di Bandar Lampung. Meski sekali panen omzet hanya mencapai ratusan ribu, namun ia masih bisa menabung. Ia juga memastikan akan menjaga tanah warisan sebagai lahan pertanian meski terimpit oleh perumahan.

Samijan, petani lainnya juga mengaku memilih memanfaatkan lahan yang terimpit perumahan. Faktor utama ia memanfaatkan lahan menghindari aksi tak bertanggung jawab. Pasalnya lahan kosong kerap dijadikan pembuangan sampah liar.

“Sistem pengairan memanfaatkan sumur bor dan embung yang tetap menampung air untuk penyiraman sayuran,” ulasnya.

Penanaman sistem terjadwal dilakukan memakai bibit bersertifikat yang dibeli kemasan dari toko pertanian. Biaya modal dan operasional bisa tertutupi dari penjualan sayuran ke pasar oleh istrinya.

Penyiraman selada milik Hermansah di Kelurahan Way Kandis, Kecamatan Tanjung Senang, Bandar Lampung untuk kebutuhan pasar tradisional, Senin (19/7/2021). Foto: Henk Widi

Hermansah, warga setempat menyebutkan, sejak lima tahun terakhir pembangunan semakin masif, bahkan petani lain memilih memasang plang tanah dijual. Sejumlah pengembang membeli lahan untuk dibuat perumahan.

Menanam berbagai jenis sayuran Hermansah membentuk kelompok tani untuk jadi wahana bertukar ilmu, berbagi potensi pasar dan peluang komoditas yang banyak diminati.

Komunitas petani lokal sebutnya sekaligus menjadi strategi untuk mempertahankan lahan terbatas jadi maksimal. Sebab dengan adanya komunitas petani memberi semangat mempertahankan tanah meski diimpit permukiman.

Bandar Lampunglahan terbatasLampung
Comments (0)
Add Comment