PKL Malam di Purwokerto Keluhkan Sering Didatangi Petugas

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Para pedagang kaki lima (PKL) di Kota Purwokerto yang biasa buka malam hari, mengeluh sering didatangi petugas dan diminta untuk menutup lapak dagangannya. Hal tersebut jelas berdampak pada penghasilan mereka, yang hanya mempunyai waktu berjualan sekitar 2 jam saja.

Seperti yang dialami penjualan gorengan, Amin di kawasan Pasar Cermai, Kecamatan Purwokerto Utara. Ia baru mulai berjualan sekitar pukul 18.00 WIB, karena penjual gorengan memang biasa mangkal pada sore hari, setelah pasar tutup. Namun, menjelang pukul 20.00 WIB, beberapa petugas sudah mendatanginya dan memintanya untuk menutup lapak dagangan.

“Baru berjualan dua jam, sudah diminta untuk tutup, terpaksa pulang dengan barang dagangan masih banyak,” keluhnya, Selasa (20/7/2021).

Selama tiga hari berturut-turut, Amin mengaku harus membawa pulang jualannya lebih awal. Sehingga ia memutuskan untuk tidak berjualan keesokan harinya.

“Biasanya, dagangan saya mulai ramai pada pukul 20.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB, kemudian sekitar pukul 22.00 WIB baru tutup dan pulang. Tetapi sekarang jam 20.00 WIB sudah harus tutup, saya jadi banyak kehilangan pelanggan, lebih baik besok tidak berjualan dulu, daripada merugi terus,” ungkapnya.

Kejadian serupa juga banyak dialami oleh penjual nasi goreng ataupun PKL lamongan yang biasanya banyak bertebaran pada malam hari. Penjual nasi goreng yang mangkal di Jalan Brigjen Encung, Sunarto menuturkan, ia baru mulai berjualan selepas maghrib dan pada pukul 20.00 sudah didatangi petugas, diminta untuk menutup warung tenda miliknya.

“Padahal baru laku tiga piring, terus mau diapakan nasi-nasi ini. Saya sempat minta bapak-bapak petugas itu untuk memborong dagangannya saya, baru saya mau tutup, tetapi ditolak dan tetap bersikeras agar saya menutup warung tenda,” tuturnya.

Sunarto mengaku, selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat diberlakukan, penghasilannya jauh menurun, karena ia memang biasa berjualan malam hari hingga menjelang dini hari.

“Kalau jualan nasi goreng siang hari, ya tidak ada yang beli, di sini tradisinya penjual nasi goreng yang buka malam hari,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dinhub) Kabupaten Banyumas, Agus Nur Hadie mengakui, jika dalam penertiban, seringkali petugas harus berhadapan dengan kondisi yang sulit. Salah satunya adalah para PKL yang biasa buka malam hari tersebut.

“Pernah juga petugas kita razia di kawasan Pabuaran dan memperingatkan kios foto copi untuk tutup, karena tidak termasuk sektor esensial ataupun kritikal. Pemilik kios fotocopy tersebut menjawab, tidak usah disuruh tutup saja, tidak ada yang fotocopy, sepi karena mahasiswa pulang kampung semua,” katanya.

Dinhub BanyumasJatengPKLPPKM DaruratPurwokerto
Comments (0)
Add Comment