INDEF: ‘Holding’ Gula Jangan Menegasikan Petani Tebu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA –  Ekonom Institut for Development of Economics and Finance (INDEF), Rusli Abdullah mengatakan, pembentukan holding pabrik gula merupakan solusi dari pemerintah untuk meningkatkan produksi gula domestik sehingga konsumsi gula bisa dipenuhi kebutuhannya.

Dia juga berharap holding pabrik gula ini dapat meningkatkan kesejahteraan para petani tebu.

“Catatannya, jangan sampai holding gula ini nantinya menegasikan keberadaan petani tebu rakyat. Mentang-mentang ada holding, mereka punya mutu efisiensi dan sebagainya, petani rakyat tidak dilibatkan. Sama saja bohong,” ujar Rusli, kepada Cendana News saat dihubungi, Senin (27/9/2021).

Menurutnya, keberadaan holding ini harus menggandeng para petani melalui inti plasma atau kemitraan sehingga target swasembada gula tidak memicu disinsentif bagi petani.

Yakni misalnya, jelas dia, ketika target pasokan tebu sudah terpenuhi, pabrik gula dapat bertindak semena-mena menekan harga beli dari petani.

Menurutnya, ada potensi permainan di rantai pasok yang menyebabkan petani tebu tidak dapat menikmati keuntungan dari harga gula sehingga mereka kesulitan menjual dengan harga wajar.

Ini dikarenakan ada pihak yang memanfaatkan rencana impor pemerintah sehingga harga gula petani bisa ditekan dijual dengan harga rendah.

Bahkan saat tebu diserahkan ke penggilingan, itu juga banyak jalurnya. Belum lagi kondisi pabrik yang sudah tua dan kurang efisien, sehingga harga jual tebu petani tidak bisa maksimal.

“Kadang mau diserahkan ke penggilingan, itu banyak jalurnya atau tengkulak. Gula petani ditekan serendah-rendahnya. Nah ini yang harus dipangkas, sehingga petani bisa langsung menikmati harga dari pabrik,” ujar Rusli.

Dengan dibentuknya holding pabrik gula ini, maka kuantitas dan kualitas gula menurutnya, perlu diperbaiki dengan teknologi yang lebih efektif dan efisien.

“Pemerintah harus transfer teknologi kepada petani tebu. Jangan gunakan pabrik yang lama, mesinnya harus teknologi baru,” ujarnya.

Jika perbaikan ini tidak dilakukan, maka kata Rusli target swasembada gula 2025 tidak akan tercapai.

“Jadi harus impor, mau gimana lagi. Kalau nggak impor harganya naik. Jadi serba salah ya karena kuantitas gula domestik kita masih kurang. Maka, perlu perbaikan dengan teknologi, tapi itu butuh waktu,” tandasnya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Arumdriya Murwani, mengimbau pemerintah agar dapat membenahi tata niaga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan terkait komoditas gula.

Selain itu, revitalisasi mesin dan pabrik gula, kebijakan-kebijakan yang dibuat juga perlu fokus pada pemenuhan kebutuhan gula dalam negeri.

“Saran saya, pemerintah harus terus meningkatkan memperbaiki tata niaga gula,” ujar Arum, kepada Cendana News saat dihubungi, Senin (29/9/2021).

Sedangkan faktor yang menjadi masalah rendahnya kontribusi produksi gula dalam negeri menurutnya, adalah laju konvensi lahan pertanian dan rantai distribusi yang panjang.

“Kalau masalah ini bisa dibenahi, maka dapat mengurangi efektivitas impor gula untuk stabilisasi harga,” urainya.

Data United States Department of Agriculture (USDA) tahun 2020, menunjukkan Indonesia memproduksi 29,3 juta ton tebu yang digiling menjadi 2,1 juta ton gula untuk konsumsi selama periode Mei 2020-Mei 2021.

“Indonesia harus mengimpor sekitar 5,2 juta ton gula untuk memenuhi konsumsi domestik, yakni yang mencapai 7,4 juta ton,” pungkasnya.

GulaImporIndefJakartapabrikproduksi
Comments (0)
Add Comment