Meski Menurun, Peluang Usaha Bengkel Sepeda Masih Menjanjikan

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Di tengah  turunnya tren bersepeda, bengkel sepeda, pun ikut terimbas. Meski demikian, usaha tersebut masih tetap menjanjikan, walaupun tidak seramai seperti pada awal pandemi Covid-19.

Ya, booming sepeda pada awal pandemi, turut dirasakan Fathoni, pemilik usaha bengkel sepeda di wilayah Banyumanik Kota Semarang. Setiap hari, bisa puluhan sepeda yang ditanganinya. Mulai dari perbaikan, hingga pemasangan spare part baru, seperti roda, pelek, hingga speed shifter atau pemindah rantai gigi sepeda.

“Ramai, selain perbaikan juga ada yang pasang spare part baru, untuk mendukung olahraga sepeda. Selain bengkel, kan juga jualan spare part juga, jadi laris juga, banyak yang beli,” paparnya, saat ditemui di bengkel tersebut, Selasa (14/9/2021).

Layaknya jualan kacang goreng, barang dagangannya tersebut banyak dicari konsumen. Harga pun tidak menjadi persoalan.

Speed shifter itu kalau yang bagus, harganya sekitar Rp 1 juta, kalau mau lebih murah juga ada Rp 500 ribuan. Itu banyak yang mencari, karena memang ke mana-mana banyak yang bersepeda,” ungkapnya.

Namun itu cerita lalu, kini peminat sepeda mulai turun, konsumen yang melakukan perbaikan atau membeli spare part, sudah tidak seramai dulu lagi. Meski demikian, dirinya tetap optimis, penggemar sepeda akan tetap ada.

“Bengkel sepeda ini kan jangka panjang,kalau sekarang agak menurun, bisa jadi nanti kedepan akan ramai kembali. Apalagi sepeda ini kan mencakup segala usia, dari anak-anak hingga dewasa. Jadi konsumennya akan tetap ada,” terangnya.

Soal ongkos service, Fathoni mengaku tergantung dengan kerusakan dan spare part yang diganti. Semakin mahal spare part tentu semakin mahal. Demikian juga semakin rumit perbaikan, tarif yang dipatok pun bisa ikut tinggi.

“Jangan salah, service sepeda, apalagi kalau ganti spare part, bisa sampai jutaan rupiah. Apalagi bila ganti spare part yang bermerek. Khususnya untuk sepeda road bike atau downhill. Kalau sepeda biasa, memang tidak sampai semahal itu,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan salah seorang konsumen, Priyanggoro, yang ditemui tengah membetulkan sepeda milik anaknya.

“Membetulkan sepeda itu kan tidak semua orang bisa, jadi pasti ke bengkel. Apalagi seperti ganti laker atau rantai sepeda, agak susah jika dikerjakan sendiri, jadi pasti membutuhkan jasa bengkel,” terangnya.

Tidak hanya itu, dibandingkan membeli sepeda baru, meski saat ini harga sepeda juga sudah terkoreksi dengan menurunnya tren bersepeda, memperbaiki sepeda juga menjadi alternatif yang lebih murah.

“Sepeda yang saya service ini, sebenarnya dulu dipakai anak saya yang pertama. Sekarang dia sudah kelas 4 SD, jadi sepedanya diberikan kepada adiknya yang baru berusia 5 tahun. Saya lebih memilih membetulkan sepeda yang lama di bengkel dibanding membeli baru, karena harganya juga masih cukup tinggi, meski sudah turun,” pungkasnya.

Bengkel SepedaJatengPeluang Usahasemarang
Comments (0)
Add Comment