Permintaan Telur dan Ayam Kampung di Sikka Alami Peningkatan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Permintaan telur ayam kampung dan ayam kampung di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) meningkat drastis, semenjak ada program penanganan stunting,  gizi kurang dan ibu hamil dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

“Sejak berhasil bekerjasama dengan desa-desa menurunkan angka stunting, kini banyak desa mengajak kerjasama,” kata Damianus Rofin Sere Muda, peternak ayam kampung di Desa Geliting, Kabupaten Sikka, NTT saat dihubungi, Selasa (7/9/2021).

Damianus Rofin Sere Muda, peternak ayam kampung saat ditemui di rumahnya di Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (23/8/2021). Foto: Ebed de Rosary

Rofin sapaannya mengakui, berkat pemberitaan media dan keberhasilan menangani stunting di desa-desa di Kecamatan Hewokloang membuat beberapa desa di Kecamatan Kewapante dan kecamatan lainnya mengajak kerjasama.

Dirinya mengakui, dia harus mengirimkan rutin sebanyak 600 butir telur ayam atau 20 papan kepada 20 pelanggannya secara rutin seminggu sekali.

Kondisi ini membuatnya terpacu untuk menambah populasi ayam kampungnya yang sudah mendekati 2 ribu ekor termasuk ayam petelur sebanyak 500 ekor.

“Saya sedang berpikir untuk membangun kandang baru melihat prospek penjualan telur dan ayam kampung meningkat. Mudah-mudahan bisa tercapai dan masih mencari tambahan modal,” ucapnya.

Menurut Rofin, menjadi peternak ayam kampung memang merupakan peluang usaha yang menjanjikan namun banyak tantangan yang harus dilewatinya.

Ia mengaku, memulai usaha dari nol dengan beberapa ekor ayam kampung saja, hingga kini usahanya berkembang pesat sehingga sudah mengalami berbagai kegagalan.

Dirinya mengharapkan agar kaum muda mulai memikirkan untuk berwirausaha, mengingat banyak peluang usaha terbuka lebar, asal ada kemauan untuk memulai dari usaha kecil-kecilan terlebih dahulu.

“Banyak peluang usaha yang bisa dilakukan asal harus berani terjun berusaha. Kalau baru awal sudah berpikir soal modal yang besar dan kendala lainnya maka lebih baik tidak usah terjun jadi wirausaha,” ucapnya.

Aparat Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Erik Paji mengaku, desanya memang sedang menganggarkan dana untuk pembelian ayam kampung dan telur ayam kampung untuk dibagikan kepada anak stunting dan ibu hamil.

Erik mengaku, membutuhkan sebanyak 300 ekor ayam kampung namun tidak bisa membelinya di pedagang ayam kampung pasar tradisional, sebab pengeluaran dana desa pertanggungjawabannya sangat ketat.

“Kita tidak mungkin membeli ayam kampung di pedagang  pasar tradisional karena jumlahnya terbatas dan harga juga bervariasi. Apalagi telur ayam kampung dalam jumlah banyak tidak ada yang jual di pasar tradisional,” ungkapnya.

Erik membenarkan, menjadi peternak ayam kampung merupakan sebuah peluang usaha yang menjanjikan sehingga dirinya berharap ada anak-anak muda lainnya di Kabupaten Sikka yang terjun di sektor usaha ini.

AnakayamkampungNTTPasarStuntingtelur
Comments (0)
Add Comment