Sejumlah Elemen di Banjarmasin Bentuk Gerakan ‘Balingai’

BANJARMASIN – Beberapa elemen masyarakat sepakat membentuk sebuah gerakan Banjarmasin Peduli Sungai atau disingkat “Balingai”,  dalam upaya menyelamatkan keberadaan sungai sekaligus bergerak untuk menciptakan keindahannya.

Seorang penggagas Balingai, Mohammad Ary, menyebutkan proses bergulirnya gerakan Balingai, diawali dengan adanya Focus Group Discussion (FGD) dan rapat konsultasi publik (RKP) penyusunan RPJMD kota Banjarmasin 2021-2025, di Rattan Inn Banjarmasin 18 Agustus 2021.

Menindaklanjuti FGD, diusulkan menjadikan sungai sebagai prasarana infrastruktur transportasi umum dan atraksi wisata, Indikator Kinerja Utama (IKU) terciptanya kondisi lima sungai yang asri melalui program normalisasi, naturalisasi, dan revitalisasi.

“Pertama, Sungai Veteran atau sungai Kelayan di Banjarmasin Tengah, Sungai Kuin – Sungai Pangeran di Banjarmasin Utara, Sungai Bromo dan Kuin Kecil di Banjarmasin Selatan, Sungai Pekapuran di Banjarmasin Timur dan Sungai Banyiur di Banjarmasin Barat,” di Banjarmasin, Kamis (16/9/2021).

Dikatakannya, strategi atau cara mencapai tujuannya, yaitu mengerahkan segenap sumber daya yang tersedia di beberapa kementerian dan di semua SKPD terkait, dan melibatkan semua pemangku kepentingan eksternal secara pentahelix.

Masyarakat adalah bagian dari pentahelix selain pemerintah, swasta, akademisi, dan media. Masyarakat dapat berperan aktif, sebagaimana yang sudah dilakukan sejak 2013 ketika Banjarmasin berkomitmen menjadi Green City, melalui Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) KemenPUPR.

“Adapun strategi melibatkan penataan dan pemanfaatan sungai secara pentahelix, izinkan lalu mengusulkan gerakan Balingai,” katanya.

Balingai dalam bahasa Banjar berasal dari kata dasar lingai, maknanya suatu kawasan yang bersih dari semak. Balingai maksudnya kegiatan membersihkan suatu kawasan untuk mengembalikan kondisinya sebagaimana bentuknya semula.

“Balingai sungai bermakna membersihkan dan berupaya mengembalikan fungsi sungai dari semua yang menyebabkan terjadinya pendangkalan, penyempitan dan pencemaran,” ujarnya.

Gerakan masyarakat ini kemudian diperkuat dengan kebijakan Pemkot Banjarmasin, melibatkan partisipasi masyarakat melalui kegiatan lomba maharagu sungai. Sejak 2016, lomba ini sudah melibatkan 180 pemangku sungai. Setiap pemangku sungai melibatkan sekitar 20 warga. (Ant)

BalingaiBanjarmasinelemenKalselSungai
Comments (0)
Add Comment