Menuju 10 Besar ADWI, Desa Wisata Cikakak Terus Berbenah

Editor: Maha Deva

BANYUMAS – Desa wisata Cikakak, yang berada di Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, berada di 50 besar desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Indonesia 2021, yang digelar oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Saat ini desa wisata tersebut sedang dalam proses penilaian, menuju 10 desa wisata terbaik.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Asis Kusumandani mengatakan, banyak pembenahan yang dilakukan Desa Cikakak dalam hal pengelolaan wisata.  “Kita dari Dinporabudpar juga terus melakukan pendampingan, karena Cikakak mempunyai potensi besar, bahkan saat menteri pariwisata berkunjung ke sini, beliau mengatakan Cikakak ini mirip dengan destinasi wisata Sangeh di Bali,” katanya, Minggu (24/10/2021).

Desa wisata Cikakak, terkenal dengan banyaknya habitat kera ekor panjang, yang hidup berdampingan dengan warga sekitar. Meskipun sudah ada hutan khusus tempat para kera, namun kera-kera ini seringkali turun ke rumah-rumah warga yang berdekatan dengan hutan.

Selain itu, juga ada tradisi Rewanda Bojana atau pemanggilan kera, di mana para kera akan turun untuk mengambil sajian gunungan buah yang disediakan warga. Menurut Asis, karena keunikan tersebut serta banyaknya ritual yang dilakukan masyarakat sekitar, maka Desa Cikakak masuk 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia. Untuk peserta ADWI 2021 sendiri ada sebanyak 1.831 desa wisata dari seluruh Indonesia.

“Saat ini Desa Cikakak dalam proses penilaian menuju 10 besar desa wisata, mudah-mudahan saja masuk dalam 10 besar dan ini akan menjadi kebanggaan bagi Banyumas serta mendongkrak kunjungan wisata ke Banyumas,” tuturnya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Saka Tunggal Desa Cikakak, Suto Handoyo mengatakan, selain tradisi Rewanda Bojana, di Desa Cikakak juga terdapat tradisi lain seperti, Jaro Rajab, yaitu pergantian pagar bambu di sekitar area petilasan makan yang dilakukan rutin pada bulan Rajab. Ritual tersebut dilakukan warga dengan berbagai aturan yang menyertainya. Misalnya, dilarang menggunakan alas kaki, serta bersuara selama proses pergantian pagar bambu.

Keberadaan Masjid Saka Tunggal, yang merupakan salah satu masjid peninggalan Wali Songo, yang dibangun hanya menggunakan satu saka atau tiang penyangga tunggal, juga semakin melengkapi destinasi wisata di Desa Cikakak. “Dalam setiap pengelolaan tempat wisata, kita selalu melibatkan masyarakat, sehingga tumbuh rasa memiliki dan pada akhirnya menjaga bersama-sama,” pungkasnya. 

anugrahg desa wisata indonesiaBanyumasdesa cikakakdesa wisataJatengKemenparekrafkera ekor pajang
Comments (0)
Add Comment