Perawan Tua

CERPEN PRIMA YUANITA

Memang menyakitkan menjadi perawan tua, tapi jika untuk melepas sebutan itu aku harus menikahi duda beranak dua, maka lebih baik aku jadi perawan tua.

Ibu kerap mendesak-desak supaya aku lekas menikah. Dia tak ingin aku menjadi perawan tua. Dia juga tak mau aku hidup melarat sepertinya.

Selama ini ibu selalu mendengarkan apa kata orang-orang. Akan tetapi, di saat dia mengalami kesulitan, tak ada orang yang bersedia memberinya pertolongan.

Dulu sewaktu bapak masih bekerja sebagai tukang patri orang-orang menggunjingnya setiap hari lantaran penghasilan yang didapat hanya bisa untuk makan sekali.

Mereka berbicara dengan mata yang menyala-nyala dan mulut berbusa-busa. Mendengar yang mereka katakan, hati ibu serasa dipanggang: mungkin lebih panas ketimbang matahari pagi yang menyengat tubuhnya setiap menggarap sawah juragan Basri.

“Aku rela berpayah-payahan kepanasan, sementara kau hanya berkeliling tanpa uang ketika pulang?” ucap ibu ketus.

Bapak baru saja sampai rumah. Kaus yang dikenakannya tampak jenuh keringat.

“Carilah pekerjaan lain! Atau ikutlah kami! Pasti ada yang bisa dikerjakan di musim tanam!”

Bapak masih tak menggubris perkataan perempuan yang menggelung rambutnya sejajar dengan telinganya itu. Dia terlihat sibuk mengangkut beberapa barang dari sepeda motor untuk dibawa ke gudang.

“Hei, apa kau ingin aku dan Sekar terus-terusan makan sambal? Oh, itu pun hasil upah tanam padi yang kusimpan di kaleng lemari.”

Bapak menghentikan langkahnya sejenak, lantas menatap ibu lekat-lekat, “Kau ingin aku ikut-ikutan bermulut pisau seperti mereka?”

“Apa maksudmu?”

“Apa lagi julukan untuk orang yang suka menggunjing orang lain seperti mereka?”

cerpenCintadaunJatengperawanPIsangPKK
Comments (0)
Add Comment