Malam Menua di Padepokan

CERPEN HARI B. MARDIKANTORO

Malam terus menegaskan kuasanya. Bias-bias gelap menelisip halus lewat beberapa celah padepokan. Di luar angin memburu dedaunan dan terus berhembus memporak-porandakan sepi yang tertata dalam setiap sudut padepokan.

Ya, sepi kian akut. Sudut-sudut padepokan dan halaman menjelma menjadi pahatan bisu yang maknanya kian memudar.

Malam kian menua. Lelaki tua itu masih saja sendirian di halaman padepokan. Sepi. Sengaja malam ini lelaki yang sering disapa Guru itu ingin menghabiskan malamnya di halaman padepokan yang sudut-sudutnya tampak muram.

Tiga tahun padepokan ini tidak terurus. Para pengikut yang dulu jumlahnya ratusan, satu demi satu meninggalkan padepokan lantas mencari padepokan lain untuk mencari ilmu, baik ilmu kanuragan maupun berbagai ilmu yang berguna dalam menjalani kehidupan.

Bukannya Guru tidak tahu penyebabnya. Ia paham, sangat paham. Namun ada hal lain yang lebih menekan jiwanya yang lantas membuat lelaki tua itu menepiskan kesadarannya.

Langit malam menghitam dan kian menghitam. Ada semacam jelaga yang menggaris tebal pada setiap titik dan sudut langit. Hujan tampaknya sebentar lagi turun.

Beberapa kali kilat menampar dari berbagai sudut. Namun Guru masih saja membisu pada kursi besar di halaman padepokan yang sudut-sudutnya sudah mulai rapuh. Rapuh seperti hati lelaki yang seluruh rambutnya sudah memutih itu.

Di belakangnya duduk dua lelaki yang usianya lebih muda dari pada Guru. Bahkan lelaki di sebelah kirinya masih sangat muda. Dua lelaki itu pengikut Guru yang masih setia mendampingi Guru sampai malam ini.

Mereka tidak tega meninggalkan Guru sendirian di padepokan dalam keadaan yang tidak tentu. Sementara ratusan pengikut yang lain sudah lama meninggalkan padepokan.

Dua pengikut, Gondo dan Mulya lantas saling memandang. Mata mereka berdua seakan bertutur dalam kesunyian. Tampaknya mereka sepakat untuk mengingatkan Guru.

“Mohon maaf Guru, tampaknya hujan sebentar lagi akan membasahi padepokan. Sebaiknya Guru segera lengser masuk ke dalam padepokan” tutur Gondo dengan santun.

“Betul Guru, nanti Guru sakit karena angin demikian kencang menampar-nampar” sahut Mulya. Guru masih diam. Pandangannya lurus ke depan menembus gelapnya malam. Sepi kian mengekal. Padepokan di pinggir desa terpencil itu memang sudah lama sepi, apalagi kalau malam seperti saat ini.

“Aku masih ingin berada di halaman padepokan ini. Kalau kamu ingin masuk, silakan masuk dulu” jawab Guru perlahan sambil menengok ke arah kedua pengikutnya berada.

“Tidak Guru, saya tetap akan berada di sini bersama Guru,” sahut Gondo tergagap.

“Saya juga.”

Lelaki yang disebut Guru menganggukkan kepala. Ada gurat kewibawaan yang mulai menghilang. Ia lantas menghela nafas, bahkan berkali-kali.

“Malam ini aku ingin mengenang anakku. Persis tiga tahun lalu di tempat ini, di pangkuanku, anakku memandangiku dengan penuh harap seakan minta pertolongan. Pandangannya menembus hatiku dan meninggalkan luka yang sampai kini masih belum kering.” Guru lantas diam.

Angin malam mulai mengusik dengan suaranya yang gaduh menampar pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar padepokan. Suara burung malam terdengar sangat nyaring dalam kesunyian yang tercipta.

“Aku sudah berusaha dengan segala upaya tapi Gusti memiliki kehendak lain. Aku harus tunduk pada kehendak Gusti. Kematian hanya Dia penentunya,” ujar Guru kemudian dengan suara parau sambil tangannya menunjuk ke atas. Ada kesedihan yang mengiris malam yang kian mendekati puncaknya.

Sejak malam yang muram itu, Guru banyak mengurung diri di kamar. Hanya sesekali saja Guru keluar, itu pun hanya untuk kepentingan yang sangat mendesak. Sebenarnya para pengikut masih setia menimba ilmu pada Guru di padepokan di pinggiran desa di lereng gunung itu.

Para pengikut yang lebih tua dan lebih lama berguru di padepokan itu lantas mengambil alih roda kehidupan di padepokan tentu atas izin Guru. Namun banyak pengikut yang tidak puas.

Para pengikut tetap menginginkan Guru yang mengajar mereka ilmu kanuragan atau ilmu lain yang akan digunakan sebagai bekal hidup dalam masyarakat nantinya. Mereka juga rindu wejangan atau pesan Guru yang menyejukkan.

Para pengikut ikut prihatin dengan kondisi Guru dan padepokan itu. Berkali-kali para pengikut sudah menyampaikan ke Guru kerinduan mereka akan suara dan gerakan Guru yang sangat berwibawa ketika mengajari para pengikut ilmu kanuragan atau yang lain.

Namun Guru selalu mengatakan bahwa ia belum bisa berkiprah seperti dulu karena ketika berhadapan dengan para pengikutnya, ia selalu teringat pada anak satu-satunya yang telah dipanggil Sang Pemilik Hidup.

Ia sangat tersiksa dengan kondisi seperti itu. Ia sudah mencoba di hadapan para pengikutnya tapi gerakan-gerakannya jadi tidak luwes dan serba salah. Pituturnya juga mengambang karena ia sering menahan air mata yang tiba-tiba hendak menetes.

Padepokan yang besar dan disegani banyak orang itu perlahan mulai kehilangan pamornya. Para pengikutnya juga mulai meninggalkan padepokan, bukan karena mereka tidak lagi menghormati Guru tapi karena mereka ingin mengembangkan dan mendewasakan diri dengan ilmu yang cukup. Maka mereka mencari padepokan lain meskipun dengan terpaksa.

Sementara para penduduk sekitar padepokan juga merasa sangat kehilangan sosok Guru yang sangat ramah dan ringan tangan membantu keperluan penduduk. Bantuan selalu mengalir dari Guru atau para pengikut padepokan apabila ada penduduk desa punya gawe.

Bahkan Guru dan para pengikut di padepokan itu menjadi tulang punggung apabila ada kerja bakti di desa sekitar padepokan. Guru dan para pengikut padepokan telah menanam biji kebaikan yang buahnya tentu kebaikan juga dengan jumlah berlimpah.

Penduduk desa di sekitar padepokan sangat kehilangan sosok Guru yang sangat mereka segani dan hormati. Bahkan mereka merasa masgul ketika satu demi satu para pengikut meninggalkan padepokan di lereng gunung itu.
***
Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, Guru sudah duduk di kursi panjang di teras pada bangunan utama padepokan. Ia memilih tidak berada di halaman padepokan karena gerimis lebih dulu menyapa malam dengan sapuan air tipisnya.

cerpenGuruJatengpadepokanpamorungaran
Comments (0)
Add Comment