Letupan Kembang Api

CERPEN MIFTAHUL IZZA

Malam beranjak larut. Meninggalkan sinar bulan yang menyentuh kerlipan bintang. Orang-orang sudah beranjak beberapa menit yang lalu, hanya tersisa aku dan Wildan di perempatan jalan Delima.

“Kau tidak ingin pulang, Hanum?” tanya Wildan sembari mengusap-usapkan tangan pada jaket yang dikenakannya.

“Belum. Kau pulang dulu saja, aku tidak masalah.”

Malam ini cuacanya sangat dingin, entah karena sehabis hujan atau memang sudah malam. Aku melihat arlojiku yang menunjukkan pukul 22:30. Ayah pasti sedang menungguku di ruang tamu dengan secangkir kopi dan sepiring gorengan di depannya.

Kemudian menyalakan televisi dan tertidur dengan sendirinya. Saat aku datang, ayah akan segera bangun dan menyodoriku seribu pertanyaan.

“Ayah bukannya mengekang, tapi sadarlah kau ini perempuan.”

“Ayah, aku ini pulang malam bukan apa-apa. Aku hanya suka pemandangan di ujung perempatan sana saat tengah malam. Jangan menuduh aku yang tidak-tidak. Lagi pula aku pergi bersama Wildan,” elakku berulang kali dengan alasan yang sama. Toh memang benar, aku hanya duduk di sini dan memandang langit hingga semunya hilang.

Lamunanku terhenti saat kurasakan tangan Wildan berkibas di depan wajahku, membuatku menoleh padanya. Sekilas aku melihat Wildan tersenyum, rambutnya yang agak panjang menutupi sebagian kening.

Tak lama kemudian rambut tersebut dikibasnya ke belakang. Sebut aku penipu bila aku mengatakan tidak mencintai Wildan.

Jantungku selalu berdegup lebih kencang saat melihat wajahnya, bahkan hanya mendengar namanya saja serasa ada letupan kembang api di depan mata. Sehari tak bertemu Wildan rasanya rindu setengah abad.

Wildan. Sosok pria dengan pribadi yang kharismatik. Dia mahir dalam hal apa pun, bahkan menaklukkan hati wanita. Wajahnya yang tampan memberikan nilai tambah untuk menjadi idola dari berbagai kalangan.

Ibu-ibu arisan dengan bangganya menceritakan putri mereka di depan Bude Tuti—ibunya Wildan—berharap untuk menjadikan Wildan sebagai mantunya.

Rumah kami berdekatan. Saking dekatnya, kami sudah macam keluarga. Terkadang Bude Tuti membantu ibu di warung, setelahnya kami akan mengobrol panjang lebar. Biasalah namanya juga wanita, tidak bisa kalau disuruh diam.

Dekatnya keluarga kami memengaruhi kedekatanku dengan Wildan, karena kami sepantaran. Kami dibesarkan di lingkungan, sekolah, dan keluarga yang sama.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu Wildan, dia membuatku menangis hingga aku tak mau lagi bermain dengannya. Usia kami sekitar 4 tahun saat Bude Tuti memperkenalkan Wildan kepadaku.

Wildan dan keluarganya mulai menetap di rumah seberang tempat tinggalku, mulanya rumah itu tidak ada penghuninya yang kemudian ditempati oleh Wildan beserta keluarga.

Bertahun-tahun kami bersama, mulai dari SD sampai saat ini ketika aku menyadari bahwa rasa sayangku pada Wildan bukanlah rasa sayang seorang adik kepada kakak, seperti yang dikatakan oleh orang tua kami.

Bagi mereka, Wildan dan aku adalah sepasang kakak-adik. Aku tidak masalah terhadap itu yang kumasalahkan adalah bagaimana respon Wildan terhadap perasaanku ini. Aku takut dia menjauh, maka kuputuskan untuk memendam perasaanku di lubuk hati yang paling dalam.

“Ayo pulang. Besok harus bangun pagi untuk berangkat ke kantor. Aku tidak mau kalau disuruh membangunkanmu lagi. Tidurmu seperti kerbau yang tidak bisa diganggu,” merasa diledek, aku memukul pelan kepala Wildan, yang dipukul malah tertawa dengan riang.

“Sudah kubilang, kau pulang saja dulu. Aku mau di sini.”

Namun Wildan tidak beranjak, ia hanya menyandarkan kepalanya di pundakku, membuat darahku berdesir lembut. Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, Wildan?

Perlakuanmu yang seperti ini membuatku berharap lebih, berharap hubungan kita tidak sekedar adik dan kakak. Aku berusaha menyamarkan degupan jantung yang sedari tadi menggebu, tapi gagal karena Wildan menyadarinya.

“Hanum, jantungmu berbunyi sangat kencang, kau sakit?”

Bodoh. Sangat bodoh. Wildan itu polos atau bagaimana? Bisa-bisanya masih bertanya demikian. Aku jadi penasaran, wanita macam apa yang akan menjadi kekasihnya kelak.

apijantungJatimKembang
Comments (0)
Add Comment