Petani Hidroponik di Sleman Keluhkan Kenaikan Harga Pupuk Pabrikan

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA, Cendana News – Petani hidroponik di Sleman mengalami penurunan pendapatan secara drastis akibat naiknya harga pupuk kimia pabrikan.

Selama ini, petani hidroponik sangat mengandalkan pupuk kimia pabrikan untuk menghasilkan panen yang memuaskan.

Petani hidroponik melon premium di dusun Kliran, Sendangagung, Minggir, Sleman, Sujito menyatakan hal tersebut.

Sejak dua tahun lalu dia sudah menggeluti budi daya melon premium dengan sitem vertigasi atau semi hidroponik.

Menurutnya, sistem semi hidroponik vertigasi sangat mengandalkan pupuk kimia pabrikan.

Hal itu karena media tanamnya bukan berupa tanah, melainkan serbuk sabut kelapa atau cocopeat.

Pemupukan tersebut dilakukan dengan metode irigasi lewat penyiraman atau pengairan secara sekaligus.

Sehingga membutuhkan kandungan unsur hara dari pupuk kimia pabrikan dalam jumlah besar.

Dia mengatakan dengan dengan sistem tersebut pemakaian pupuk kimia pabrikan harus intensif.

“Sebab, kita tidak menggunakan pupuk organik sama sekali. Pupuknya tidak bisa asal, harus yang berkualitas,” ungkapnya.

Karena itu, kenaikan harga pupuk kimia jelas mempengaruhi biaya operasionalnya.

Saat ini, ia mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli pupuk kimia pabrikan.

Dia mengatakan, rata-rata kenaikan harga pupuk berkisar Rp100-300 ribu per Sak isi 25 kilogram.

“Karena semua pupuk itu bukan jenis pupuk subsidi, maka mau tak mau harus mengikuti,” kata Sujito.

Sementara itu, dia biasa menggunakan lima jenis pupuk kimia pabrikan untuk sekali tanam atau setiap dua bulan sekali.

Dengan kenaikan harga pupuk berbagai jenis tersebut, keuntungan yang didapatpun menurun hingga mencapai lebih dari Rp1 juta lebih per sekali panen.

HidproponikpetaniPupukSleman
Comments (0)
Add Comment